Translate

Senin, 23 Februari 2015

Wayang sebagai Warisan Budaya Indonesia

Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional asli Indonesia yang telah berkembang sejak lama, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Selain itu, kesenian ini juga dikenal di berbagai daerah lain seperti Sumatra serta kawasan Semenanjung Malaya, yang kebudayaannya turut dipengaruhi oleh tradisi Jawa dan ajaran Hindu.

Pada 7 November 2003, UNESCO—lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan—secara resmi menetapkan wayang sebagai 'Warisan Budaya Dunia Takbenda'. Wayang diakui sebagai mahakarya dalam seni bertutur dan pertunjukan bayangan boneka yang memiliki nilai budaya tinggi dan tak ternilai.

Meskipun seni pertunjukan boneka juga ditemukan di berbagai negara lain, wayang Indonesia memiliki ciri khas tersendiri. Keunikan tersebut terlihat dari gaya penceritaan, filosofi, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Inilah yang menjadikan wayang sebagai karya budaya yang memiliki identitas kuat dan layak masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Umat Manusia.

Sejarah wayang diperkirakan berkaitan erat dengan masuknya pengaruh Hindu ke Nusantara. Tidak ditemukan bukti kuat bahwa wayang telah ada sebelum penyebaran agama Hindu di Asia Selatan. Diperkirakan, seni pertunjukan ini dibawa oleh para pedagang India, kemudian berkembang melalui proses akulturasi dengan budaya lokal yang telah ada sebelumnya. Catatan tertua mengenai wayang ditemukan dalam Prasasti Balitung pada abad ke-4, yang memuat istilah “si Galigi mawayang”.

Pada masa perkembangan Hindu di Indonesia, wayang dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran ajaran agama melalui kisah-kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata. Tradisi ini berlanjut hingga masa penyebaran Islam. Karena adanya larangan menampilkan sosok Tuhan atau dewa dalam bentuk manusia, muncullah bentuk wayang dari kulit sapi yang dipentaskan melalui bayangan, yang kini dikenal sebagai wayang kulit. Dalam perkembangannya, muncul pula wayang Sadat yang digunakan sebagai media penyampaian nilai-nilai Islam.

Tidak hanya dalam konteks Hindu dan Islam, wayang juga digunakan sebagai sarana penyebaran agama Katolik. Pada tahun 1960, seorang misionaris Katolik bernama Bruder Timotheus L. Wignyosubroto, FIC, mengembangkan Wayang Wahyu, dengan cerita yang bersumber dari Alkitab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar