Identitas Buku
Judul
buku : The Dead Returns
Judul
asli : Houkago ni Shisha wa Modoru
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Arumdyah Tyasayu
Penerbit : Haru
Terbit : Cetakan pertama, Agustus 2015
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-602-7742-57-4
Sinopsis
Suatu malam,aku
didorong jatuh dari tebing.
Untungnya aku
selamat.
Namun, saat aku
membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang
biasa-biasa saja.
Tubuhku berganti
dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.
Dengan tubuh
baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.
Tersangkanya,
teman sekelas.
Total, 35 orang.
Salah satunya
adalah pembunuhku.
Koyama Nobuo, seorang siswa SMA yang
dikenal sebagai otaku karena
ketertarikannya terhadap kereta api yang berlebihan. Pada malam setelah upacara
pembukaan semester baru, Koyama didorong jatuh dari tebing. Saat tersadar di
rumah sakit, ia telah berada di dalam tubuh Takahashi Shinji, sosok pemuda yang
tadinya hendak menolongnya. Berlindung di balik penyakit memory disorder, Koyama Nobuo menjalani kehidupan barunya sebagai
Takahashi Shinji dan bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan terhadap dirinya,
Koyama Nobuo.
Langkah pertama yang diambil yaitu pindah
ke sekolah Koyama Nobuo, SMA Narumi Higashi. Daya tarik Takahashi Shinji yang
memiliki perawakan yang apik memudahkannya untuk berbaur dengan teman-teman
sekelasnya. Ia mulai menanyai orang-orang di sekitarnya mengenai kejadian ‘hari
itu’.
Unsur Intrinsik
1. Tema : Misteri pembunuhan
2. Alur : Campuran
3. Tokoh
dan penokohan
|
No |
Tokoh |
Penokohan |
|
1. |
Koyama Nobuo |
Pendiam, pemurung, mempunyai tekad yang
kuat, ceroboh |
|
2. |
Takahashi Shinji |
Supel, pandai, teliti, pengecut |
|
3. |
Maruyama Miho |
Pendiam, pemurung, mudah cemburu |
|
4. |
Tanaka Yoshio |
Pendiam, pemalu, sopan, bijaksana,
pendengar yang baik |
|
5. |
Sasaki |
Baik, ramah, supel, tegas |
|
6. |
Arai |
Baik, ramah, supel |
|
7. |
Jozaki Yukari |
Jujur, pekerja keras, egois, pemarah |
|
8. |
Mika |
Jujur, ceria, peduli, perhatian, centil |
|
9. |
Tomatsu |
Supel |
|
10. |
Shigeki |
Supel |
|
11. |
Hayashi |
Jujur |
|
12. |
Ayah Takahashi Shinji |
Baik, ramah, penyayang, perhatian,
bijaksana |
|
13. |
Ibu Takahashi Shinji |
Baik, ramah, penyayang, perhatian, tidak
sabar |
|
14. |
Ibu Koyama Nobuo |
Ramah, pekerja keras |
|
15. |
Ibu Tanaka Yoshio |
Ramah, baik, jujur |
|
16. |
Adik Tanaka Yoshio |
Lucu |
|
17. |
Sakomoto-sensei |
Ramah, kikuk, bijaksana |
4. Latar/setting
a) Latar
tempat
·
Koridor
Koridor
terasa ramai karena-suara-suara obrolan dan senda gurau dari dalam kelas.
·
Ruang kelas
Setelah
mendengar aba-aba itu dari dalam, aku maju satu langkah memasuki kelas.
·
Kantin
Kantin
di waktu istirahat siang sangatlah penuh sesak.
·
Tebing Miura
Kaishoku
Aku
didorong sampai tinggal berjarak beberapa senti dari mulut tebing.
·
Rumah sakit
Ketika
terbangun di rumah sakit, aku dikelilingi orang-orang yang tidak kukenal.
·
Rumah keluarga
Takahashi
Saat
pintu masuk terbuka dan aku melangkah, tercium bau asam-manis....dan aku, tidak
membenci bau rumah keluarga Takahashi ini.
·
Kamar Takahashi
Shinji
Aku
memutar pandangan ke sekeliling kamar, lalu duduk di atas kasur. Rasanya
seperti datang ke kamar teman. Mulai hari ini, kamar ini milikku.
·
Rumah keluarga Koyama
Rumah keluarga Koyama berada setelah
belokan di ujung jalan ini. Rumah yang kecil. Saat aku mengintip melalui
gerbang, Koko yang tadinya tidur bergelung langsung menyadari kehadiranku dan
menyalak.
·
Rumah keluarga Tanaka
Aku
memencet bel interkom rumah Yoshio setelah aku tiba, tapi tidak ada yang yang
menjawab.
·
Atap sekolah
Aku
juga akan menunggu penjahatnya di atap ini.
b) Latar
waktu
·
2 September
pukul 19.00
Koyama
Nobuo, diriku yang sebenarnya, dibunuh pada tanggal 2 September, malam setelah
upacara semester baru. Tepatnya lagi, malam hari pukul tujuh lebih sedikit.
·
Pagi hari
Pagi
berikutnya, aku beranjak dari ranjang lebih cepat dari biasanya.
·
Siang hari
Kantin
di waktu istirahat siang sangatlah penuh sesak.
·
Sore hari
...saat
itulah aku bisa melihat wajahnya, karena cahaya matahari sore.
·
Malam hari
Aku
berlari sekuat tenaga, menyusuri kota di malam hari.
c) Latar
suasana
·
Kesedihan dan kekecewaan
Yoshio...
berbohong... Aku... tidak bisa lagi... percaya pada siapa pun!! Aku
mengubrak-abrik semua yang bisa kuraih.
·
Menegangkan
Yoshio
membeku melihat sosokku yang seharusnya tidak ada di sini. “Takahashi...kun?
kenapa kau ada di sini?” Wajahnya memucat.
“Tanakan-kun,
bisa beritahu aku semuanya?” aku maju selangkah. Yoshio berjalan mundur
menyusuri pagar.
“Waaah,
tentang apa, ya?” Yoshio menunjukkan senyum sumbang. Aku langsung marah dan
mencengkeram kerah Yoshio.
“Katakan
semuanya! Jelaskan! Apa kau yang menyebabkan segalanya?! ...Katakan yang
sebenarnya. Kenapa Koyama Nobuo dibunuh?!”
·
Mengerikan
“Eh?
Penguntit itu... teman sekelas kita?” Tiba-tiba bulu kudukku berdiri.
·
Mengharukan
Diselimuti
suara tepuk tangan yang hangat itu, aku memandang bangku di dekat jendela.
Sudah tidak ada bunga putih lagi di sana.
“Terima
kasih.” Aku berbisik lirih. Berbisik pada semua teman-teman sekelas... juga
pada gadis itu.
5. Sudut
pandang : orang pertama (Aku =
Koyama Nobuo)
6. Gaya
bahasa/majas
|
Majas |
Kalimat |
|
Repetisi |
Rasanya
aku mau pingsan. Rasanya aku mau menyerah. |
|
Asosiasi |
Dia
penuh energi bagaikan atlet, membuatnya tidak seperti seorang guru, tetapi
seperti seorang kakak laki-laki yang bisa diandalkan. |
|
Personifikasi |
Seluruh
suara itu bersatu membentuk degup jantung sekolah, berirama dengan degup
jantungku sendiri yang sudah berdebar keras. |
|
Hiperbola |
Seandainya
aku adalah Takahashi Shinji yang sebenarnya, pasti aku bisa memperkenalkan
diriku dengan lancar dan bisa mengambil hati seisi kelas. |
|
Hiperbola |
Padahal
hanya beberapa langkah, tapi jalan menuju ke sana rasanya panjang gara-gara
tatapan seisi kelas yang terpusat padaku. |
|
Eksklamasio |
“Waduh,
wajahmu pucat!” |
|
Retoris |
Apa
salah kalau aku tidak bisa meembiarkan tindakan itu begitu saja? |
|
Litotes |
“...yang
paling membuatku terkejut, aku tidak tahu kalau ternyata Koyama bisa
menghibur seperti itu. Kupikir kau cuma tertarik pada kereta. Penampilanmu
lumayan, lho. Seharusnya kau main band.” “Ah,
tidak...” aku tertawa getir. |
|
Tautologi |
Aku
menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan tenaga dengan perutku, kemudian
mengangkat wajahku. |
7. Amanat
- Kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain
- Kita sebaiknya berteman dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan
- Stop bullying