Translate

Senin, 09 Februari 2026

Makna dan Interpretasi Puisi 'Doa' Karya Chairil Anwar

Puisi

Makna dan Interpretasi Puisi

Puisi 'Doa' karya Chairil Anwar merupakan salah satu puisi bernuansa religius yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam kondisi rapuh dan penuh kegelisahan. Puisi ini menunjukkan sisi spiritual penyair yang sedang berada dalam pencarian dan keputusasaan, namun tetap menggantungkan harapan kepada Tuhan.

Pada bait awal, penyair menggambarkan dirinya yang berada dalam keadaan 'termangu', yaitu kebingungan dan perenungan mendalam. Meskipun berada dalam kondisi tersebut, ia masih menyebut nama Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, Tuhan tetap menjadi tempat bergantung.

Bait selanjutnya menggambarkan jarak antara manusia dan Tuhan. Cahaya Tuhan yang digambarkan panas dan suci berbanding terbalik dengan kondisi penyair yang hanya memiliki “kerdip lilin di kelam sunyi”. Ini melambangkan iman yang kecil, lemah, dan hampir padam, namun belum sepenuhnya hilang.

Ungkapan “Aku hilang bentuk / Remuk” memperlihatkan kondisi batin penyair yang hancur dan kehilangan arah hidup. Ia merasa asing, terasing dari dunia maupun dari dirinya sendiri. Keadaan ini semakin diperkuat dengan metafora “mengembara di negeri asing”, yang menunjukkan keterasingan spiritual.

Pada bagian akhir puisi, penyair menggambarkan sikap pasrah dan harapan. Ia mengetuk pintu Tuhan dan menyatakan bahwa ia tidak bisa berpaling. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penuh dosa, ragu, dan penderitaan, manusia tetap membutuhkan Tuhan sebagai tempat kembali.

Secara keseluruhan, puisi 'Doa' menyampaikan pesan bahwa iman tidak selalu hadir dalam keadaan sempurna, tetapi justru sering muncul dalam kondisi paling rapuh. Puisi ini mengajarkan tentang kerendahan hati, pencarian makna hidup, dan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar