Translate

Senin, 09 Februari 2026

Persebaran Agama Kristiani, Islam, dan Agama Lain di Indonesia pada Masa Kolonial

Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, selain memengaruhi sistem pemerintahan dan budaya, juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sistem ideologi, khususnya dalam penyebaran agama. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang para penjajah yang pada umumnya beragama Nasrani.

Dalam perjalanannya, berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kolonial sering kali merugikan rakyat. Akibatnya, muncul perlawanan dari tokoh-tokoh kaum muslimin yang telah lebih dahulu berkembang dan mengakar di Nusantara.

1. Masa Pendudukan Portugis dan Spanyol

Masuknya agama Kristen Katolik ke Indonesia berlangsung seiring dengan kedatangan bangsa Spanyol dan Portugis. Penyebaran agama Kristen di Indonesia pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penyebaran Kristen Katolik dan Kristen Protestan.

Penyebaran agama Katolik diprakarsai oleh para rohaniwan, yakni pastor dan biarawan, sedangkan penyebaran Kristen Protestan dirintis oleh para pendeta atau pengabar Injil.

Agama Katolik pertama kali masuk ke wilayah Maluku yang dirintis oleh saudagar Portugis bernama Gonzalo Veloso dan seorang pastor bernama Simon Vas. Persebaran agama Kristen Katolik dilakukan oleh sebuah lembaga yang dinamakan missi, yang berpusat di Vatikan, Roma.

Perkembangan agama Katolik menunjukkan kemajuan yang cukup pesat sejak rohaniwan Portugis bernama Fransiscus Xavierius dan Ignatius Loyola melakukan kegiatan keagamaan di tengah-tengah masyarakat Ambon, Ternate, dan Morotai pada tahun 1546–1547.

2. Masa Pendudukan Belanda dan Inggris

Kehadiran Belanda di Indonesia mengubah peta penyebaran agama Kristen di beberapa daerah. Belanda merupakan penganut Kristen Protestan yang beraliran Calvinis.

Di wilayah Maluku, sebagian besar penduduk yang sebelumnya beragama Katolik kemudian beralih menjadi penganut Calvinisme. Pemerintah VOC melarang kegiatan missi Katolik untuk melakukan aktivitas keagamaan.

Jean Calvin (1509–1564) merupakan pencetus ajaran Calvinisme. Ia mengajarkan paham yang berbeda dengan ajaran Katolik, seperti keyakinan bahwa kekuasaan Tuhan tidak terbatas, pemisahan gereja dari kekuasaan pemerintahan duniawi, serta penentangan keras terhadap perzinahan, perjudian, mabuk-mabukan, dan lagu-lagu porno.

Negara-negara yang menganut ajaran Calvinisme antara lain Belanda, Inggris, Skotlandia, Swiss, dan Hungaria. Penyebaran agama Kristen Protestan dilakukan melalui kegiatan zending. Tokoh-tokoh zending Belanda di Indonesia antara lain Dr. Nomensen, Sebastian Dan Chaerts, dan Hernius.

Kegiatan zending Belanda di Indonesia antara lain:
  • mendirikan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), yaitu perkumpulan yang berusaha menyebarkan agama Kristen Protestan;
  • mendirikan sekolah-sekolah yang menitikberatkan pada upaya penyebaran ajaran Kristen Protestan.

Memasuki abad ke-19, penyebaran agama Kristiani semakin meluas ke berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok missionaris dan zending dari gereja-gereja reformasi Eropa maupun Amerika mulai berdatangan.

Pada masa pendudukan Inggris tahun 1814, kelompok rohaniwan yang tergabung dalam NZG dari Belanda, dengan dukungan London Missionary Society (LMS), memulai aktivitas keagamaan mereka yang terutama ditujukan kepada penduduk lokal.

Berbagai organisasi missi dan zending di daerah kemudian bekerja secara otonom, antara lain:
  • Ordo Hati Suci (Ordo Herlege Hart) yang bertanggung jawab atas wilayah Papua;
  • Societeit van het Goddelijk Woord (Serikat Sabda Allah) yang bertanggung jawab di wilayah Flores dan Timor;
  • Kelompok Kapusin yang bertanggung jawab di wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Berdasarkan peraturan pemerintah Hindia Belanda tahun 1854, kegiatan zending dan missionaris Kristiani harus memperoleh izin khusus dari Gubernur Jenderal untuk melakukan kegiatan dakwah.

Seiring dengan kebijakan tersebut, daerah Banten, Aceh, Sumatra Barat, dan Bali dinyatakan tertutup bagi kegiatan missi Kristen. Dengan demikian, masyarakat Muslim di Banten, Aceh, dan Sumatra Barat tidak terpengaruh oleh kegiatan missi, sementara Bali tetap menjadi basis agama Hindu.

Wilayah Ambon dan sekitarnya ditetapkan sebagai hak eksklusif bagi para zending. Daerah Batak juga menjadi wilayah eksklusif kegiatan zending sejak tahun 1807.

Salah satu fenomena menarik dalam perkembangan agama Nasrani di Indonesia adalah munculnya gereja-gereja lokal. Jika sebelumnya sebagian besar pemeluk agama Kristen di Jawa berasal dari kalangan penduduk perkotaan, melalui gereja-gereja lokal berkembang komunitas Kristiani di wilayah pedesaan.

Pertemuan antara ajaran Kristiani Eropa dengan unsur-unsur budaya lokal Jawa melahirkan gereja-gereja lokal seperti Pasamuan Kristen Jawa Merdika (PKJM), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Sunda (GKS), dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Salah satu tokoh terkenal dari gereja lokal adalah Kiai Sadrach Surapranata (1835–1924). Ia memadukan ajaran Kristen dengan unsur mistik dan adat lokal Jawa. Meskipun dianggap menganut ajaran sesat oleh missionaris Eropa, pada tahun 1887 ia berhasil membaptis seorang bangsawan dari Keraton Pakualaman.

Pada tahun 1890, jumlah pengikutnya mencapai hampir 7.000 orang yang tersebar di 371 desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain di Jawa, gereja-gereja lokal juga berkembang di daerah lain seperti Batak (Sumatra Utara) dan Minahasa (Sulawesi Utara).

3. Persebaran Agama Islam dan Agama Lainnya pada Masa Kolonial

Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin khusus bagi persebaran agama Kristiani di daerah-daerah tertentu, terutama wilayah yang belum mendapat pengaruh agama Hindu-Buddha maupun Islam, seperti Ambon, Batak, Papua, dan Sulawesi Utara.

Sebaliknya, daerah-daerah yang telah menjadi basis agama tertentu dinyatakan tertutup bagi Kristenisasi. Wilayah Banten, Aceh, dan Sumatra Barat ditetapkan sebagai basis agama Islam, sedangkan Bali menjadi basis agama Hindu. Dengan kebijakan tersebut, perkembangan agama-agama lokal dan agama besar lainnya tidak terdesak oleh Kristenisasi.

Masyarakat di daerah-daerah tersebut tetap leluasa menjalankan aktivitas keagamaannya. Kepercayaan yang telah mereka pegang sejak sebelum kedatangan bangsa Eropa pun tetap eksis dan bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar