Translate

Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2015

Cerpen: Catatan Milmil oleh L. Heni S.

Catatan Milmil
L. Heni S.
Membayangkan harus pergi dengan Bibi Tantan, membuat Milmil mulas. Aduh, Bibi kalau berbicara panjang sekali.
"Kenapa harus Milmil, Bu?"
"Bibi yang minta," jawab ibu Milmil.
"Bibi malas pergi denganku. Kalau Bibi bicara satu kata, kubalas dua kata. Dua kalimat, kubalas tiga kalimat. Banyak bicara saja, Mil, supaya kamu tidak pusing mendengar omongan Bibi," saran Kak Bilbil.
Bibi Tantan hendak ke luar kota. Ia tidak suka berpergian sendiri. Salah satu keponakan selalu diajak.
"Siap, Milmil?" Bibi Tantang bertanya.
"Siap, Bi."
"Masukkan kopor ke bagasi. Tutup rapat. Jangan sampai jatuh di jalan. Repot kalau itu terjadi. Bibi mesti membelikan kamu pakaian baru. Bibi..." Nah, tuh, panjang lebar ucapan Bibi Tantan.
Kak Bilbil menahan tawa, sementara Milmil dengan sigap mengangkat kopor, memasukkannya ke bagasi. Sembil menata kopor, Milmil berpikir. Bukankan Bibi Tantan memang suka berbicara?
"Sudah, Milmil? Mari berangkat."
Milmil minta diri pada Ibu, lalu naik mobil. Kak Bilbil berdiri di balik jendela, melambai sambil menyeringai. Hm...
Sepanjang jalan, Bibi Tantan terus bicara. Tahu-tahu mereka sampai kota tujuan. Bibi Tantan mengajak singgah di rumah makan.
Milmil mencatat, ini salah satu kelebihan Bibi Tantan. Murah hati!
"Pelayan, maaf!" Bibi Tantan memanggil pelayan kembali. "Tambah satu es krim paling enak, ya."
"Bibi pesankan untukmu." Mata Bibi Tantan berbinar.
Ah, Milmil menambah di catatannya. Perhatian!
Perut kenyang, mereka menuju hotel. Bibi Tantan memesan kamar berisi dua tempat tidur.
"Bibi yang dekat pintu. Kalau ada tamu tak diundang masuk, biar dia berhadapan dengan Bibi." Bibi Tantan tertawa.
Tempat tidur Milmil dekat jendela. Dari situ, pemandangan kota sangat cantik. Catatan Milmil bertambah lagi. Suka mengalah! Bibi Tantan memberikan yang lebih baik pada keponakannya.
Keesokkan harinya, teman Bibi datang. Untuk itulah Bibi Tantan meluangkan waktu. Bertemu teman lama yang bertahun-tahun tak berjumpa. Bibi Tantan dan Bibi Gunggung berpelukan sambil menangis. Milmil hampir ikut menangis.
Aduh, Milmil sampai lupa beberapa banyak kebaikan Bibi Tantan yang dicatatnya. Yang pasti, setia!
Milmil bersyukur, tidak menuruti saran Kak Bilbi;. Tiap orang berbeda. Biarkan mereka menjadi diri sendiri. 
***
sumber: Majalah Bobo edisi 41 tanggal 17 Januari 2013

Sabtu, 07 Maret 2015

Cerita Fabel: Landak yang Kesepian

Landak yang Kesepian

Di hutan belantara hiduplah seekor landak. Namanya Landa. Jarang sekali dia bermain dengan binatang lain. Si landak tidak mau bermain dengan binatang lain karena khawatir duri yang ada di tubuhnya akan menusuk temannya.

Setiap hari Landa bermain sendiri. Mencari makan pun dia hanya berani pada malam hari di saat binatang lain tidur pulas. Hatinya sedih karena tidak mempunyai teman yang bisa di ajak berbicara dan bermain.

Beberapa waktu lalu si Landa mengajak monyet, kambing, kancil, dan binatang lainnya untuk bermain bersama. Akan tetapi, mereka menolak ajakan itu.

“Teman-teman, ayo main bersamaku?” ajak Landa.

“Maaf, Landa, bukannya tidak mau bermain bersamamu, tetapi kami takut tertusuk duri di badanmu itu,” seru teman-temannya.

"Aku akan berhati-hati agar duri di tubuhku tidak menusuk kalian.”

“Tapi maaf, Landa, kami belum bisa,” seru teman-temannya.

Setelah mendengar jawaban dari teman-temannya, Si Landa bertambah sedih. Landa tetap berusaha sekuat tenaga agar dia dapat diterima oleh teman-temannya. Landa berusaha menghibur diri. Dia bernyanyi-nyanyi kecil. Landa selalu berpikir tentang nasibnya yang nahas itu. Dia berpikir bahwa ini adalah nasibnya. 

Ketika si landak sedang melamun di pinggir sungai, seekor kura-kura menghampirinya.

“Hai, siapa namamu? Aku Kuku. Aku perhatikan dari tadi kamu melamun saja.”

Landa kaget mendengar si kura-kura. Dia bingung, ternyata masih ada yang mau menyapanya.

Kuku mengulurkan tangannya ke Landa. Landa menjabat tangan Kuku dengan hati-hati.

“Hai, namaku Landa,” jawab landa gembira.

“Landa, aku tahu kok kamu sedang mempunyai masalah. Wajahmu terlihat murung,” kata Kuku.

“Ah, tidak apa-apa, Kuku.”

“Ceritalah kepadaku. Siapa tahu aku bisa membantumu.”

Karena Kuku ramah dan baik, akhirnya Landa bercerita tentang hal yang menimpanya.

Setelah mendengar cerita itu Kuku merasa iba kepada Landa. Kuku berusaha menghibur Landa. Dia juga mengundang Landa ke pesta di rumahnya. Landa senang mendapat undangan itu.

Keesokan harinya Landa datang ke rumah Kuku. Dengan senang dan bergembira dia segera menuju ke rumah Kuku. Setelah sampai di rumah Kuku ternyata sudah banyak binatang lain yang hadir dalam pesta tersebut, termasuk monyet, kambing, dan kancil.

Kuku menerima kedatangan Landa dengan gembira. Dia mengenalkan Landa kepada teman-temannya. Sebagian dari tamu-tamu itu ada yang mau bersalaman dengan Landa dan sebagian lain menolaknya.

“Mengapa kamu tidak mau bersalaman denganku?” tanya Landa.

“Maaf Landa, aku takut durimu menusuk tanganku,” jawab Kancil.

Ketika mereka sedang asyik berpesta, tiba-tiba monyet berteriak kencang, “Teman-teman, cepat bersembunyi, ada gerombolan serigala mengintai kita.

Seketika itu juga, mereka kalang kabut. Tiba-tiba gerombolan serigala mengejar binatang-binatang yang ada di rumah Kuku.

Kura-kura, monyet, kancil, dan kambing sudah tertangkap oleh serigala. Seketika itu juga Landa marah. Dia tidak terima melihat teman-temannya ditangkap serigala.

Landa langsung menggulung badannya menjadi bulat, seperti bola duri. Kemudian dia menggelindingkan ke arah gerombolan serigala. Dengan lincah Landa menabrakkan badannya ke gerombolan serigala itu. Serigala itu kesakitan dan gerombolan itu terpecah.

Akhirnya, serigala itu lari meninggalkan Landa dan teman-temannya.

“Hore, hidup Landa!”

Terima kasih Landa, kami minta maaf atas sikap kami selama ini,” kata monyet sambil tersenyum tulus.

Akhirnya, Landa tidak lagi kesepian. Kini, dia mempunyai banyak teman yang membuat hidupnya lebih bahagia.

***



Kamis, 05 Maret 2015

Cerita Fabel: Anjing yang Nakal

Anjing yang Nakal

Dahulu kala ada seekor anjing yang punya kebiasaan mendekati tumit orang. Tidak jarang pula anjing itu mengigit tumit dari orang yang ditemuinya. Karena kebiasaan itu majikannya memasang kalung lonceng di lehernya sebagai penanda jika anjing ini akan mendekat.

Si anjing menganggap bahwa lonceng tersebut sebagai ciri khasnya. Anjing itu sangat bangga dan sengaja membunyikannya di setiap sudut pasar. Dia selalu berlari ke setiap penjuru dan menunjukkan lonceng tersebut kepada setiap orang yang lewat.

Seekor anak anjing bertanya, “Mengapa kamu selalu berlari ke sana-kemari dengan loncengmu?”

“Ya, aku bangga pada lonceng di leherku. Tidak setiap anjing punya lonceng sepertiku.”

Pada suatu ketika anjing tua berkata kepada anjing berlonceng, “Mengapa kamu selalu memamerkan diri dengan loncengmu?”

“Ya, karena tidak setiap anjing memiliki lonceng sepertiku.”

“Sebenarnya kamu harus malu pada loncengmu. Lonceng itu tidak patut kamu banggakan. Bahkan, itu aib. Sebenarnya majikanmu memberi lonceng itu agar orang berhati-hati dengan kehadiranmu. Lonceng itu adalah pemberitahuan kepada semua orang agar hati-hati dan waspada akan kedatanganmu karena kamu anjing yang tak tahu aturan dan sering menggigit tumit orang,” kata anjing tua.

Setelah mendengar hal itu, anjing berlonceng tidak mau lagi berlari-lari. Meskipun memakai lonceng, dia tidak berani lagi memamerkan loncengnya karena banyak anjing lain yang mengetahui aibnya.

***

Cerita Fabel: Mengusir Kodok oleh Ayui Soesman

Mengusir Kodok

Ayui Soesman

Dahulu kala di tengah-tengah hutan yang sangat lebat di atas bukit terdapat sebuah desa yang dihuni oleh beraneka ragam serangga. Mereka hidup tenteram, rukun, dan damai. Ada keluarga kupu-kupu yang tinggal di atas pohon. Pak Kumbang dan keluarganya tinggal di dalam sarang yang tergantung di dahan pohon besar. Kakek Cacing selalu membuat rumah di lubang tanah. Sekelompok semut hitam dan semut merah tinggal di sarangnya yang saling berdekatan dengan Bapak Laba-laba yang mempunyai rumah jaring. Ibu Kecoa menempati sebuah sepatu bot, sebuah sepatu bekas milik manusia yang telang terbuang.

Hampir setiap malam mereka berkumpul bersama, berpesta, menari, dan bergembira. Mereka saling berbagi makanan kecuali seekor belalang yang selalu hidup menyendiri. Ia hanya memandang keramaian dari depan rumahnya. Tingkah belalang itu sangat aneh, ia malu karena ia telah kehilangan sebuah kakinya. Kakek Cacing pernah bercerita, Paman Belalang setahun yang lalu telah kehilangan kakinya akibat ia berkelahi dengan seekor burung yang hendak memangsanya. Sehari-hari Paman Belalang hanya duduk termenung meratapi kakinya yang hilang. Paman Belalang merasa sudah tidak berguna lagi karena telah kehilangan kakinya yang sangat berharga.

Lodi si anak semut merah dan Roro si anak semut hitam sangat prihatin melihat hidup Paman Belalang. Suatu hari ketika Lodi dan Roro sedang berjalan-jalan di tepi sungai, tiba-tiba mereka melihat Paman Belalang sedang asyik membuat sebuah perahu kecil yang terbuat dari ranting pohon dan daun kering.

“Wahhhh… perahu buatan paman bagus sekali,” puji Roro”. Paman Belalang tersenyum, lalu tiba-tiba ia mengajak Lodi dan Roro naik ke dalam perahu miliknya. Lodi dan Roro saling bertatapan. Mereka tidak menyangka ternyata Paman Belalang sangat baik dan ramah. Paman Belalang mengeluarkan sebuah gitar tua, lalu ia mulai bernyanyi, sedangkan Lodi dan Roro menari-nari mengikuti irama gitar milik Paman Belalang.

“Ya ampun, jahat sekali kodok-kodok itu!” Bisik Roro ketakutan.

Paman Belalang, Lodi, dan Roro diam-diam mendengarkan percakapan kedua kodok itu dari dalam perahu mereka dengan bersembunyi di balik bunga teratai. Benar saja, ternyata kedua kodok itu mempunyai rencana jahat nanti malam. Mereka tahu jika hampir setiap malam desa serangga selalu mengadakan pesta. Kodok itu pun berencana akan merusak pesta dan memangsa anak-anak serangga yang berada di sana. Ketika mendengar hal itu, Paman Belalang cepat-cepat memutar balik arah perahu miliknya, lantas mereka bertiga kembali ke desa.

“Ayo kita pulang dan beri tahu serangga tentang rencana itu”, jelas paman.

Perahu yang paman kemudikan itu berlayar sangat cepat menuju desa. Setiba di sana Paman Belalang segera menceritakan rencana jahat sang kodok yang mereka dengar tadi.

“Benarkah cerita itu?” tanya Kakek Cacing yang dituakan oleh para serangga di desa mereka.

“Benar, Kakek, kami berdua pun juga mendengar percakapan kodok jahat itu,” jelas Lodi dan Roro.

Paman Belalang kemudian memerintahkan kepada serangga bahwa pada malam itu sebaiknya tidak usah menggelar pesta. Anak-anak dan telur mereka harus dijaga baik-baik di dalam sarang oleh induknya, sedangkan para pejantan dewasa siap berjaga-jaga dan menyerang jika kedua kodok itu datang. Ternyata benar, ketika malam hari tiba, kedua ekor kodok hitam itu muncul di desa. Kodok itu pun bingung karena desa serangga yang hampir setiap malam mengadakan pesta, tiba-tiba saja menjadi sunyi senyap.

“Serang...!”, teriak Paman Belalang. Dengan cepat Bapak Laba-laba menjatuhkan jaring besarnya tepat di atas kodok itu. Kedua kodok itu terperangkap oleh jaring laba-laba. Mereka pun tidak dapat bergerak. Para pejantan semut merah dan semut hitam mengelilingi serta menggigiti keduanya. Kodok-kodok itu berteriak kesakitan. Akhirnya, mereka menyerah dan meminta maaf kepada para serangga. Kakek Cacing memerintahkan Bapak Laba-laba untuk membuka jaring-jaringnya. Lalu, ia menyuruh kedua kodok itu pergi dari desa serangga.

“Hore!” Teriak para serangga ketika melihat kodok-kodok itu pergi. Sambil menari-nari mereka mengangkat tubuh Paman Belalang dan melempar-lemparnya ke udara. Kakek Cacing mengucapkan terima kasih kepada Paman Belalang yang sudah menyelamatkan desa. Semenjak itu, Paman Belalang tidak menjadi pemurung lagi. Ia menyadari dirinya masih berguna walaupun telah kehilangan kakinya. Setiap malam ia pun bergabung dengan para serangga lainya untuk berpesta. Paman Belalang selalu bermain gitar dan bernyanyi riang. Para serangga pun sangat menyukainya. Begitu juga dengan Lodi dan Roro yang sekarang menjadi sahabat paman. Mereka selalu ikut berpetualang dengan Paman Belalang dan perahunya.

***


Sabtu, 28 Februari 2015

Cerita Fabel: Kelinci Sang Penakluk

Kelinci Sang Penakluk

Di sebuah hutan hiduplah seekor singa yang ganas. Suatu hari sang singa ganas itu membuat peraturan bahwa dia tidak akan berburu binatang hutan. Sebagai gantinya harus ada binatang di sekelilingnya yang suka rela menjadi mangsanya.

Pada hari pertama setelah peraturan itu diberlakukan datanglah seekor kelinci. Sambil terengah-engah kelinci itu minta maaf kepada sang singa yang ganas itu.

“Maaf sang raja, saya datang terlambat. Ada singa lain yang tadi memburu saya,” kata si kelinci.

Kemudian, singa yang ganas itu mengangguk-anggukkan kepala dan langsung menyahut, “Mana singa yang mengejarmu? Akan kuhabisi dia sekarang juga.”

“Ya sang raja, dia ada di dalam sumur itu.”

Akhirnya, binatang-binatang itu menjadi lega. Berkat kecerdikan kelinci Sang singa yang ganas itu masuk ke dalam sumur dan tidak ada lagi pemangsa di hutan itu.

***

Kamis, 26 Februari 2015

Cerita Fabel: Jiji Jerapah dan Kus Tikus

Jiji Jerapah dan Kus Tikus

Dikisahkan hiduplah sekelompok binatang di sebuah kampung. Binatang-binatang itu bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing. Di kampung itu mereka saling bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan.

Pada suatu hari ada seekor jerapah yang tengah mencari pekerjaan. Sang Jerapah itu bernama Jiji. Dia ingin segera mendapat pekerjaan. Pekerjaan apa saja yang penting tidak merugikan orang lain. Masalahnya, Jiji terlalu tinggi untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan padanya.

Jiji terlalu tinggi untuk menjadi kondektur bus. Ketika berdiri di dalam bus, ia harus menekuk leher dan itu membuat lehernya nyeri. Ia juga terlalu tinggi untuk menjadi sopir truk. Lehernya terlalu panjang di ruang kemudi. Saat ia tekuk, hidungnya menyentuh kemudi truk.

“Hm, sepertinya, aku hanya cocok untuk melakukan pekerjaan di luar ruangan. Ya, ya," gumam Jiji pada suatu pagi, sambil matanya menerawang memperhatikan sekitarnya.

Jiji mendatangi sebuah rumah. Ia menemui seekor tikus. Si tikus itu bernama Kus. Si tikus tengah mengecat rumah itu. Kus berdiri di sebuah tangga pendek sambil tangannya memegang kaleng cat. Kus kelihatan berat mengecat di situ.

“Halo, teman!” Sapa Jiji.

“Hai,” sahut Kus Tikus. Lalu, dari mulut keluar keluhan, “oh!”

“Ada apa?” Tanya Jiji.

“Tangga ini terlalu pendek. Aku jadi tidak bisa mencapai langit-langit,” ucap Kus. “Ah andai saja aku punya teman kerja yang tinggi sepertimu! Ia pasti dapat membantuku.”

“Aku bisa membantumu,” Jiji menawarkan diri. “Kau bisa menggunakan aku sebagai tangga.”

“Sungguh?”

“Ya,” jawab Jiji yakin.

“Terima kasih, teman.”

Dengan gembira Kus Tikus naik ke leher sang Jerapah. Kemudian, dia memegang kaleng cat dengan mulutnya. Dia merasa nyaman menempel di leher sang jerapah. Dengan mudah si tikus menjangkau tempat-tempat yang sulit. Si tikus mengecat langit-langit. Pekerjaan mereka sangat rapi. Pak Beruang, sang pemilik rumah, sangat suka. Lalu, ia memberi ongkos lebih untuk Kus Tikus dan Jiji Jerapah.

“Hore!” Seru Jiji senang. “Aku mendapat gaji pertamaku”

“Eh, teman, bagaimana kalau mulai saat ini kita bekerja sama? Daripada aku membeli tangga yang lebih tinggi lebih baik aku menggunakanmu saja sebagai tangga. Bagaimana?” usul Kus.

“Ya, ya, aku mau,” sahut Jiji gembira.

Akhirnya, mulai saat itu Jiji dan Kus bekerja sama sebagai tukang cat di kampung tersebut. Mereka tidak pernah kehabisan pekerjaan. Di kampung-kampung lain pun mereka banyak ditawari pekerjaan. Di mana pun mereka bekerja dengan baik. Pekerjaan mereka selalu rapi dan memuaskan sehingga banyak yang menggunakan jasa mereka. Hati mereka senang dan gembira.

***

Jumat, 20 Februari 2015

Cerita Fabel: Kupu-Kupu Berhati Mulia

Kupu-Kupu Berhati Mulia

Dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat taman yang indah. Sang semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang berada di taman itu.

Ia melihat sebuah kepompong di atas pohon. Sang semut mengejek bentuk kepompong yang jelek dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

“Hei, kepompong alangkah jelek nasibmu. Kamu hanya bisa menggantung di ranting itu. Ayo jalan-jalan, lihat dunia yang luas ini. Bagaimana nasibmu jika ranting itu patah?”

Sang semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat ia suka. Bahkan, sang semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya. Sang semut merasa bahwa dirinya adalah binatang yang paling hebat. Si kepompong hanya diam saja mendengar ejekan tersebut.

Pada suatu pagi sang semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, genangan lumpur terdapat di mana-mana. Lumpur yang licin membuat semut tergelincir dan jatuh ke dalam lumpur. Sang semut hampir tenggelam dalam genangan lumpur itu. Semut berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan.

“Tolong, bantu aku! Aku mau tenggelam, tolong..., tolong...!”

Untunglah saat itu ada seekor kupu-kupu yang terbang melintas. Kemudian, kupu-kupu menjulurkan sebuah ranting ke arah semut.

“Semut, peganglah erat-erat ranting itu! Nanti aku akan mengangkat ranting itu.” Lalu, sang semut memegang erat ranting itu. Si kupu-kupu mengangkat ranting itu dan menurunkannya di tempat yang aman.

Kemudian, sang semut berterima kasih kepada kupu-kupu karena kupu-kupu telah menyelamatkan nyawanya. Ia memuji kupu-kupu sebagai binatang yang hebat dan terpuji.

Mendengar pujian itu, kupu-kupu berkata kepada semut.

“Aku adalah kepompong yang pernah kau ejek,” kata si kupu-kupu.

Ternyata, kepompong yang dulu diejek sudah menyelamatkan dirinya.

Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di taman itu.

***

Minggu, 15 Februari 2015

Cerita Fabel: Katak, Kerbau, dan Gunung Meletus

Katak, Kerbau, dan Gunung Meletus

Kadok, Kadek, dan Kadik adalah tiga ekor katak kecil yang lucu-lucu. Suatu ketika di musim kemarau, mereka bermain di tepi sebuah kolam yang jernih airnya. Mereka bermain riang gembira. Karena udara panas, sesekali mereka menceburkan diri ke kolam, kemudian melompat kembali ke tepi kolam.

Tiba-tiba dari kejauhan, datang seekor kerbau yang kegerahan. Kerbau itu baru saja selesai merumput di padang rumput yang tak jauh dari kolam. Segera kerbau itu menceburkan diri ke kolam.

Ketiga katak kecil terkejut. Untung mereka sudah di tepi kolam. Kerbau itu membenamkan diri di kolam, lalu menggerak-gerakkan tubuhnya yang gempal sehingga air kolam menjadi keruh.

Alangkah kecewanya ketiga katak kecil. Kadok, kakak tertua, berteriak-teriak ke arah Kerbau.

“Hai Kerbau, lihat perbuatanmu! Kolam ini kini keruh karena ulahmu. Kami tak bisa bermain-main lagi di kolam ini!”

Kerbau menoleh ke arah ketiga katak kecil.

“Hai katak-katak kecil, kalian tak bisa melarangku! Aku ini sedang kepanasan, tahu! Aku mandi di sini agar tubuhku dingin kembali!” jawab si Kerbau dengan wajah mengejek.

“Hai, Kerbau!” kata Kadok lagi. “Kau boleh mandi di sini, tetapi jangan seenaknya menggoyang-goyangkan tubuh.”

Kerbau tak menghiraukan seruan katak kecil. Ia terus membenamkan diri dan menggerak-gerakkan tubuh sepuasnya. Ketiga katak kecil dengan bersungut-sungut kembali ke rumah mereka. Mereka melapor pada induk katak.

Induk katak hanya tersenyum. “Anak-anakku, kita memang tak berdaya menghadapi Kerbau yang begitu besar. Bersabarlah. Lama-kelamaan, Kerbau akan meninggalkan kolam itu.”

Akan tetapi, setiap hari, Kerbau berendam di kolam itu. Ketiga katak kecil hanya bisa berdiam di tepi kolam sambil memandangi Kerbau. Mereka mencoba membujuk Kerbau agar tidak setiap hari mandi di kolam itu. Namun, Kerbau tetap kepala batu.

Suatu hari, seekor elang terbang merendah ke arah rumah katak. Elang itu memberitakan bahwa sebentar lagi gunung akan meletus. “Semua hewan harus mengungsi ke timur. Lava gunung akan megalir ke barat.”

Hewan-hewan di hutan segera bersiap mengungsi. Induk katak menyuruh ketiga anaknya memberitahukan berita itu kepada Kerbau.

“Hai, Kerbau, ayo, ikut mengungsi!” ajak Kadok. “Sebentar lagi gunung akan meletus. Semua penghuni tempat ini akan pergi ke timur.”

Kerbau hanya tersenyum mengejek dan berkata,

“Hai, katak kecil, aku tak percaya kata-katamu! Itu pasti hanya akalmu agar aku meninggalkan kolam ini, kan?”

Sampai beberapa kali katak-katak kecil mengingatkan Kerbau. Namun, sia-sia. Keluarga katak akhirnya segera bergabung dengan hewan-hewan lain untuk mengungsi.

Tiba-tiba, terdengar letusan yang sangat dahsyat. Gunung benar-benar meletus. Kerbau amat terkejut. Ia segera melompat dan berlari meninggalkan kolam.

“Hai, Kerbau! Lari ke timur, bukan ke utara!”

Kerbau memalingkan muka ke arah suara itu. Ternyata, keluarga katak sedang berada di atas sebuah gundukan tanah. Kerbau merasa keluarga katak itu sangat baik hati.

“Baiklah, katak,” kata Kerbau. “Naiklah kalian ke atas punggungku.”

Dengan senang hati, keluarga katak segera meloncat ke atas punggung Kerbau. Kerbau segera berlari ke arah timur, sesuai petunjuk keluarga katak. Akhirnya, tibalah mereka di sebuah padang rumput luas. Di tempat itu, sudah banyak hewan lain yang mengungsi.

Beberapa hari kemudian, gunung berhenti meletus. Keadaan aman kembali. Hewan-hewan itu pun kembali ke tempat asal mereka.

Kerbau amat berhutang budi pada keluarga katak karena telah mnyelamatkan jiwanya. Antara kerbau dan keluarga katak pun terjalin persahabatan.

Kini, setiap hari Kerbau tetap berkubang di kolam. Namun, katak-katak kecil dapat bermain sambil berlompatan di punggungnya. Katak-katak kecil senang sekali bersahabat dengan Kerbau. Air kolam tidak terlalu keruh lagi karena Kerbau membenamkan tubuh dengan hati-hati.

***

Sabtu, 14 Februari 2015

Cerita Fabel: Tino Mencari Ibu oleh Mohammad Sadam Husaen


Tino Mencari Ibu
Mohammad Sadam Husaen 

Tino si ulat senang sekali berkeliling. Ia berteduh di bawah pohon dekat danau. Ia melihat ibu angsa dan anak-anaknya yang sedang bermain dengan riang gembira. Di atas pohon, tampak juga ibu merpati sedang bernyanyi ceria bersama anak-anaknya. Beberapa ikan juga sedang berenang kesana-kemari mengikuti induknya.

“Kenapa semua punya ibu dan saudara? Kenapa aku cuma sendirian? Dimana Ibu dan saudara-saudaraku? Pasti senang kalau punya Ibu dan saudara-saudara,” pikir Tino dalam hati.

Tino lalu mendekati Bu Kiki Kijang.

“Apakah kau ibuku?” tanya Tino.
 
Bu Kiki Kijang menggeleng.

“Tentu saja bukan,” katanya. 

Tino lalu mendekati Bu Cati Kucing.

“Apa kau ibuku?”

Bu Cati Kucing juga menggeleng.

Tino berkeliling dan bertanya pada beberapa induk hewan yang ditemuinya. Namun mereka semua menggeleng. Tino akhirnya lelah dan beristirahat di sehelai daun pohon jambu yang gugur di tanah. Di situlah ia lahir beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, datanglah Bu Cici Kelinci mencari jambu-jambu yang berguguran untuk makan siang. Tino pun bertanya, “Apakah kau ibuku?” 

Bu Cici Kelinci kaget melihat Tino yang tiba-tiba muncul dari balik daun.

“Oh, bukan, aku bukan ibumu. Bentuk kita berbeda, kan?” 

Tino sedih sekali mendengarnya. Bu Cici Kelinci berkata lagi, “Eeh, tapi sepertinya aku pernah melihat binatang sepertimu di dalam lubang di sebelah selatan sana.”

“Benarkah?” wajah Tino berubah cerah.

“Mari kuantar kau ke sana. Siapa tahu keluargamu ada di sana.”

Tino lalu merayap naik ke punggung Bu Cici Kelinci. Beberapa saat kemudian mereka tiba di lubang itu. Tino mengucapkan terimakasih. Lalu merayap masuk ke dalam lubang yang ditunjuk Bu Cici Kelinci. 

Di dalam lubang itu, ia bertemu dengan sepuluh hewan yang bentuknya sama dengannya. Cuma mereka jauh lebih panjang dan besar.

“Siapa kamu?” tanya seekor hewan yang terpanjang sambil menjulurkan lidahnya. 

“Aku Tino. Apa kau ibuku? tanya Tino.

“Tidak mungkin! Aku cuma menetaskan 9 telur di sarangku ini. Lagipula kami tidak berbulu sepertimu. Kami bersisik. Kami keluarga ular.” 

Tino sedih sekali. Ia merayap keluar dari lubang itu sambil meneteskan air mata. Tino kembali ke tempat Bu Cici Kelinci.

“Tenanglah Tino, mungkin ibumu sedang mencari makanan untukmu. Sabarlah dan tinggalah di rumahku. Aku akan berkeliling dan bertanya pada semua binatang di hutan ini, apakah mereka melihat ibumu,” bujuk Bu Cici. 

Akhirnya Tino tinggal bersama Bu Cici Kelinci. Dengan gembira ia bermain bersama anak-anak Bu Cici. Tetapi suatu hari Tino menghilang. Anak-anak kelinci mencari kesana-kemari, tetapi tak menemukannya. Bu Cici pun ikut sedih. Ia bertanya pada semua binatang yang ditemuinya. Tetapi tidak ada yang tahu dimana Tino berada.

Beberapa hari kemudian, ketika Bu Cici Kelinci sedang mencari jambu untuk makan siang, tiba-tiba ada yang menyapanya.

“Halo Bu Cici!”

Bu Cici kaget. Ia menengok ke kanan kiri, tapi tidak ada seekor hewan pun. Tapi kemudian ia melihat seekor kupu-kupu warna kuning terbang mengelilinginya.

“Siapa kamu? Apa kau tadi yang memanggilku?”

“Ya, aku yang memanggilmu Bu Cici. Ini aku, Tino.” 

“Tino?” Bu Cici bingung. Tino hinggap di telinga Bu Cici dan bercerita.

“Bu, maafkan aku kemarin pergi tanpa pamit. Aku harus berpuasa dan menjadi kepompong. Aku baru tahu kalau aku bisa berubah menjadi kupu-kupu. Aku juga baru tahu kalau ibuku adalah seekor kupu-kupu.”

“Oh, syukurlah Tino, akhirnya kau menemukan ibumu. Tak disangka, kau berubah menjadi kupu-kupu yang tampan.”

“Saya ingin berterima kasih karena Bu Cici sudah merawat saya beberapa hari ini. Sekarang, saya harus bergabung dengan kupu-kupu yang lain. Selamat tinggal.” 

“Ya, Tino, pergilah. Salam buat ibumu. Selamat jalan, ya!"

Akhirnya Tino bergabung dengan gerombolan kupu-kupu. Ia sangat bahagia karena kini bisa berkumpul bersama Ibu dan saudara-saudaranya.

***

Sumber: Majalah Bobo