Tino Mencari Ibu
Mohammad Sadam Husaen
Tino si ulat senang
sekali berkeliling. Ia berteduh di bawah pohon dekat danau. Ia melihat ibu
angsa dan anak-anaknya yang sedang bermain dengan riang gembira. Di atas pohon,
tampak juga ibu merpati sedang bernyanyi ceria bersama anak-anaknya. Beberapa
ikan juga sedang berenang kesana-kemari mengikuti induknya.
“Kenapa semua punya ibu
dan saudara? Kenapa aku cuma sendirian? Dimana Ibu dan saudara-saudaraku? Pasti
senang kalau punya Ibu dan saudara-saudara,” pikir Tino dalam hati.
Tino lalu mendekati Bu
Kiki Kijang.
“Apakah kau ibuku?” tanya Tino.
Bu Kiki Kijang menggeleng.
“Tentu saja bukan,” katanya.
Tino lalu mendekati Bu Cati Kucing.
“Apa kau ibuku?”
Bu Cati Kucing juga menggeleng.
Tino berkeliling dan
bertanya pada beberapa induk hewan yang ditemuinya. Namun mereka semua
menggeleng. Tino akhirnya lelah dan beristirahat di sehelai daun pohon jambu
yang gugur di tanah. Di situlah ia lahir beberapa hari yang lalu.
Tak lama kemudian,
datanglah Bu Cici Kelinci mencari jambu-jambu yang berguguran untuk makan
siang. Tino pun bertanya, “Apakah kau ibuku?”
Bu Cici Kelinci kaget
melihat Tino yang tiba-tiba muncul dari balik daun.
“Oh, bukan, aku bukan ibumu. Bentuk kita
berbeda, kan?”
Tino sedih sekali
mendengarnya. Bu Cici Kelinci berkata lagi, “Eeh, tapi sepertinya
aku pernah melihat binatang sepertimu di dalam lubang di sebelah selatan sana.”
“Benarkah?” wajah Tino berubah cerah.
“Mari kuantar kau ke sana. Siapa tahu keluargamu
ada di sana.”
Tino lalu merayap naik
ke punggung Bu Cici Kelinci. Beberapa saat kemudian mereka tiba di lubang itu.
Tino mengucapkan terimakasih. Lalu merayap masuk ke dalam lubang yang ditunjuk
Bu Cici Kelinci.
Di dalam lubang itu, ia
bertemu dengan sepuluh hewan yang bentuknya sama dengannya. Cuma mereka jauh
lebih panjang dan besar.
“Siapa kamu?” tanya seekor hewan yang terpanjang
sambil menjulurkan lidahnya.
“Aku Tino. Apa kau ibuku? tanya Tino.
“Tidak mungkin! Aku cuma menetaskan 9 telur di
sarangku ini. Lagipula kami tidak berbulu sepertimu. Kami bersisik. Kami
keluarga ular.”
Tino sedih sekali. Ia
merayap keluar dari lubang itu sambil meneteskan air mata. Tino kembali ke
tempat Bu Cici Kelinci.
“Tenanglah Tino, mungkin ibumu sedang mencari
makanan untukmu. Sabarlah dan tinggalah di rumahku. Aku akan berkeliling dan
bertanya pada semua binatang di hutan ini, apakah mereka melihat ibumu,” bujuk
Bu Cici.
Akhirnya Tino tinggal
bersama Bu Cici Kelinci. Dengan gembira ia bermain bersama anak-anak Bu Cici.
Tetapi suatu hari Tino menghilang. Anak-anak kelinci mencari kesana-kemari,
tetapi tak menemukannya. Bu Cici pun ikut sedih. Ia bertanya pada semua
binatang yang ditemuinya. Tetapi tidak ada yang tahu dimana Tino berada.
Beberapa hari kemudian,
ketika Bu Cici Kelinci sedang mencari jambu untuk makan siang, tiba-tiba ada
yang menyapanya.
“Halo Bu Cici!”
Bu Cici kaget. Ia
menengok ke kanan kiri, tapi tidak ada seekor hewan pun. Tapi kemudian ia
melihat seekor kupu-kupu warna kuning terbang mengelilinginya.
“Siapa kamu? Apa kau tadi yang memanggilku?”
“Ya, aku yang memanggilmu Bu Cici. Ini aku,
Tino.”
“Tino?” Bu Cici bingung. Tino hinggap di telinga
Bu Cici dan bercerita.
“Bu, maafkan aku
kemarin pergi tanpa pamit. Aku harus berpuasa dan menjadi kepompong. Aku baru
tahu kalau aku bisa berubah menjadi kupu-kupu. Aku juga baru tahu kalau ibuku
adalah seekor kupu-kupu.”
“Oh, syukurlah Tino,
akhirnya kau menemukan ibumu. Tak disangka, kau berubah menjadi kupu-kupu yang
tampan.”
“Saya ingin berterima kasih karena Bu Cici sudah
merawat saya beberapa hari ini. Sekarang, saya harus bergabung dengan kupu-kupu
yang lain. Selamat tinggal.”
“Ya, Tino, pergilah. Salam buat ibumu. Selamat
jalan, ya!"
Akhirnya Tino bergabung dengan gerombolan kupu-kupu. Ia sangat bahagia karena kini bisa berkumpul bersama Ibu dan saudara-saudaranya.
***
Sumber: Majalah Bobo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar