Translate

Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2022

Alat Musik Tradisional Irian Jaya (Papua)

Sebagian alat musik tradisional Irian Jaya (Papua) merupakan alat musik tradisional kiriman dari Maluku, contohnya seperti alat musik tradisional Rebana, Rebab, dan Gong.
1. Tifa
Tifa
Tifa adalah alat musik yang berasal dari Maluku dan Papua, Tifa mirip seperti gendang yang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Tifa terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi. Biasanya penutupnya terbuat dari kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknya pun biasanya dibuat dengan ukiran. Tiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khasnya masing-masing. Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian Perang, Tarian Tradisional Asmat, dan Tarian Gatsi. Alat musik tradisional Tifa ini banyak digunakan oleh penduduk Papua dan Maluku. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.
2. Triton
Triton
Triton adalah alat musik tradisional masyarakat Papua. Triton merupakan alat musik yang cara penggunaannya dengan cara ditiup. Alat musik ini terdapat di seluruh pesisir pantai yang ada di Papua, terutama di daerah Biak, Yapen, Waropen, Nabire, Wondama, serta kepulauan Raja Amat. Awalnya, alat ini hanya digunakan untuk sarana komunikasi atau sebagai alat panggil atau pemberi tanda. Selanjutnya, alat ini juga digunakan sebagai sarana hiburan dan alat musik tradisional.
3. Fu
Fu
Alat musik ini terbuat dari kerang dan ditiup untuk mengeluarkan suara.
4. Sekakas
Sekakas
Sekakas merupakan instrumen yang ada di Papua yang digunakan untuk keperluan praktis, seperti untuk menarik (perhatian) ikan-ikan hiu. Sekakas bisa mengeluarkan bunyi gemeretakan kalau dipegang setengah didalam laut dan setengahnya lagi di udara.
5. Pikon
Pikon
Pikon berasal dari kata pikonane. Dalam bahasa Baliem, pikonane berarti alat musik bunyi. Alat ini terbuat dari sejenis bambu yang beruas-ruas dan berongga bernama Hite. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar berupa do, mi, dan sol. Walau kelihatan sederhana, namun ternyata tak semua orang bisa menggunakan alat musik tradisional Papua ini.

Sabtu, 25 September 2021

Ragam Hias pada Bahan Kayu

Pengertian Ragam Hias

Ragam hias disebut juga ornamen, merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak ragam hias. Ragam hias di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan alam, flora dan fauna serta manusia yang hidup di dalamnya. Keinginan untuk menghias merupakan naluri atau insting manusia. Faktor kepercayaan turut mendukung berkembangnya ragam hias karena adanya perlambangan di balik gambar. Ragam hias memiliki makna karena disepakati oleh masyarakat penggunanya. Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara stilasi (digayakan) yang meliputi penyederhanaan bentuk dan perubahan bentuk (deformasi).
Pengertian Bahan Kayu
Dalam kehidupan sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering digunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan karena sifat khasnya. Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.
Beberapa teknik dalam digunakan dalam menerapkan ragam hias pada bahan kayu, seperti mengukir dan menggambar. Mengukir berarti ragam hias dibuat dengan cara permukaan kayu dipahat dan dibentuk seperti relief. Teknik menggambar dibuat setelah benda atau barang seni terbentuk. Ragam hias pada kayu sering dijumpai pada pintu, jendela, bagian tiang rumah, dan bagian tertentu rumah. Pada umumnya, ragam hias selain digunakan sebagai bagian dari keindahan rumah juga berfungsi sebagai penolak bala atau penghormatan kepada roh leluhur. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua memiliki ciri khas sendiri dalam membuat ragam hias pada bahan kayu.
Ragam Hias pada Bahan Kayu
Penempatan ragam hias pada bahan kayu dapat dilakukan pada bidang dua dan tiga dimensi. Pada bidang dua dimensi, ragam hias dapat dilakukan dengan menggambar atau melukis permukaan bidangnya. Penerapan ragam hias pada bidang dua dimensi seperti ragam hias pada ukiran kayu, dilihat dari sisi-sisi bangunan rumah adat.
Penerapan ragam hias pada bahan kayu sudah banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya daerah Jawa Tengah. Pemanfaatan kayu sebagai benda seni sudah sejak lama ada. Kayu biasanya diolah terlebih dahulu menjadi benda-benda seni tertentu kemudian diberikan sentuhan ragam hias. Ragam hias yang digunakan tidak berbeda dengan bahan-bahan lain. Ragam hias yang digunakan biasanya diambil dari unsur flora, fauna, geometris, dan bentuk-bentuk figuratif. 

a. Ragam hias flora
Flora sebagai sumber objek motif ragam hias dapat dijumpai hampir di seluruh pulau di Indonesia. Ragam hias dengan motif flora (vegetal) mudah dijumpai pada barang-barang seni, seperti batik, ukiran, kain sulam, kain tenun, dan bordir.  
b. Ragam hias fauna
Ragam hias fauna (animal) merupakan bentuk gambar motif yang diambil dari hewan tertentu. Hewan sebagai wujud ragam hias pada umumnya telah mengalami perubahan bentuk atau gaya. Beberapa hewan yang biasa dipakai sebagai objek ragam hias adalah kupu-kupu, burung, kadal, gajah, dan ikan. Ragam hias motif fauna telah mengalami deformasi namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Ragam hias fauna dapat dikombinasikan dengan motif flora dengan bentuk yang digayakan.
Motif ragam hias daerah di Indonesia banyak menggunakan hewan sebagai objek ragam hias. Daerah-daerah tersebut seperti Yogyakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Motif ragam hias fauna tersebut dapat dijumpai pada hasil karya batik, ukiran, sulaman, anyaman, tenun, dan kain bordir Ragam hias bentuk fauna dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan kearifan lokal daerah tertentu di Indonesia seperti burung cendrawasih di Papua, komodo di Nusa Tenggara Timur, dan gajah di Lampung.
c. Ragam hias geometris
Ragam hias geometris merupakan motif hias yang dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris dan kemudian digayakan sesuai dengan selera dan imajinasi pembuatnya. Gaya ragam hias geometris dapat dijumpai di seluruh daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ragam hias geometris dapat dibuat dengan menggabungkan bentuk-bentuk geometris ke dalam satu motif ragam hias. 
d. Ragam hias figuratif
Bentuk ragam hias figuratif berupa objek manusia yang digambar dengan mendapatkan penggayaan bentuk. Ragam hias figuratif biasanya terdapat pada bahan tekstil maupun bahan kayu, yang proses pembuatannya dapat dilakukan dengan cara menggambar.
4. Teknik Berkarya Ragam Hias pada Bahan Kayu
Berkarya dengan bahan kayu dapat dilakukan dengan cara mengukir dan menggambar atau melukis. Mengukir dalah membuat sayatan pada permukaan kayu dengan menggunakan alat pahat. Kegiatan melukis berarti membuat gambar ragam hias dan kemudian diberi warna. 
a. Menggambar ragam hias ukiran di atas bahan kayu
Bentuk kayu ada yang berupa batang dan ada juga yang berbentuk papan. Kayu banyak jenisnya. Ada kayu yang memiliki serat halus dan kasar. Mengukir harus memperhatikan alur seratnya. Sebelum kayu diukir, terlebih dahulu harus dibuatkan gambar hiasnya. Membuat torehan pada kayu yang menggunakan ragam hias tertentu merupakan aktivitas dalam mengukir.
Alat utama untuk mengukir, yaitu mata pahat mendatar dan mata pahat melengkung.
Penggunaan pahat harus disesuaikan dengan bentuk ragam hias yang akan diukir. Alat pemukul yang digunakan dalam kegiatan mengukir pada umumnya terbuat dari kayu meskipun ada jugayang menggunakan palu besi. 
Sebelum mengukir, sebaiknya kamu harus mengenal terlebih dahulu alat dan bahan serta prosedur kerjanya. Kegiatan mengukir pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan menggambar ragam hias ukiran
  2. Memilih bentuk ragam hias pada bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Mulai mengukir di bagian dasar luar sketsa ragam hias
  5. Mulai mengukir sketsa ragam hias
  6. Membentuk garis dan lekukan
  7. Merapikan atau membersihkan bagian ukiran yang belum sempurna
b. Melukis ragam hias di atas bahan kayu
Bahan kayu sebagai media dalam melukis ragam hias memiliki sifat yang banyak menyerap cat.  Penggunaan cat sebaiknya diulang-ulang agar warna yang diinginkan terlihat lebih sempurna. Pengulangan pengecatan dapat dilakukan setelah cat sebelumnya sudah kering. Kegiatan melukis pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan melukis
  2. Meyiapkan bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Memberikan warna pada sketsa
  5. Biarkan kering
  6. Beri cat secara berulang-ulang agar warna terlihat lebih sempurna
  7. Setelah warna terlihat sempurna, beri cat pelapis (vernis)

Jumat, 13 Mei 2016

Pengertian, Aliran Gaya, dan Tema dalam Karya Seni Lukisan

PENGERTIAN

  • Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan datar dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu, dengan melibatkan ekspresi, emosi, dan gagasan pencipta secara penuh. Sehingga sebuah lukisan harus dapat menterjemahkan apa yang ada dalam objek, tema atau gagasan secara representatif. Soedarso Sp (1990: 11)
  • Secara umum, seni lukis adalah sebuah pengembangan dari menggambar, biasanya memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri. Ciri khas ini didasarkan pada tema, corak/gaya, teknik/bahan dan bentuk karya seni tersebut.
ALIRAN GAYA LUKISAN
Berdasarkan cara pengungkapannya dibagi menjadi tiga: representatif, deformatif, dan nonpresentatif.

  • Representatif, perwujudan gaya seni rupa yang menggunakan keadaan nyata pada kehidupan masyarakat dan gaya alam. Yang termasuk dalam representatif adalah naturalisme, realisme, dan romantisme.
  1. Naturalisme, aliran seni lukis dengan penggambaran yang alami/sesuai dengan keadaan alam. Perbandingan perspektif, struktur, dan warna gelap-terang sangat teliti. Pelukis: Basuki Abdullah, Abdullah Suryobroto, Mas Pringadi, Wakidi, Claude, Rubens, Constabel, dll.
  2. Realisme, aliran yang memandang dunia ini tanpa ilusi, tanpa menambah atau mengurangi objek, sesuai dengan kenyataan hidup (dengan kata lain, ada apanya). Pelukis: Trubus, Wardoyo, Tarmizi, S. Sudjojono, dan Dullah.
  3. Romantisme, bersifat imajiner. Aliran ini melukiskan cerita-cerita yang romantis, peristiwa yang dahsyat atau kejadian yang dramatis. Pelukis: Raden Saleh, Fransisco Goya, dan Turner. 
  • Deformatif, perwujudan gaya seni rupa yang menggunakan perubahan bentuk dari aslinya sehingga menghasilkan bentuk baru namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Yang termasuk yaitu ekspresionisme, impresionisme, surialisme, dan kubisme.
  1. Ekspresionisme, penggambarannya sesuai dengan keadaan jiwa sang perupa yang spontan pada saat melihat objek karyanya. Pelukis: Affandi dan Vincent van Gogh.
  2. Impresionisme, penggambarannya sesuai dengan kesan saat objek tersebut dilukis. Pelukis: Claude Monet, Georges Seurat, Paul Cezame, Paul Gauguin, dan S. Sudjojono.
  3. Surialisme, menyerupai bentuk-bentuk yang sering di alam mimpi. Pelukis mengabaikan bentuk objek secara keseluruhan dan mengolah sedemikian rupa bagian tertentu dari objek sehingga memiliki kesan tertentu tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Pelukis: Salvador Dali.
  4. Kubisme, penggambarannya berupa bidang segi empat atau bentuk dasar kubus. Pelukis: Pablo Picasso, But Mochtar, Srihadi, Fajar Sidik, dan Mochtar Apin.  
  • Nonpresentatifperwujudan gaya seni rupa yang bentuknya sulit untuk dikenal, sudah meninggalkan bentuk aslinya dan lebih menekankan pada unsur-unsur formal, struktur, unsur rupa, dan prinsip estetik. Berupa susunan garis, bentuk, bidang, dan warna yang terbebas dari bentuk alam. Gaya ini dipelopori oleh Amry Yahya, Fajar Sidik, But Mochtar, dan Sadali.
TEMA DALAM PEMBUATAN KARYA SENI
  • Hubungan antara manusia dengan dirinya
  • Hubungan antara manusia dengan manusia lain
  • Hubungan antara manusia dengan alam sekitar
  • Hubungan antara manusia dengan benda
  • Hubungan antara manusia dengan aktivitasnya
  • Hubungan antara manusia dengan alam khayal
No
Tema dan Lukisannya
Judul Lukisan
Gaya Lukisan
1.
Hubungan antara manusia dengan dirinya
Potret Diri Topeng-topeng Kehidupan
karya
Affandi
Deformatif, Ekspresionisme
2.
Hubungan antara manusia dengan manusia lain
Bocah Stasiun
karya
Herri Soedjarwanto
Representatif, Realisme
3.
Hubungan antara manusia dengan aktivitasnya
3 Musicians
karya
Picasso
Deformatif,
Kubisme
4.
Hubungan antara manusia dengan alam sekitar
Pemandangan Priangan
karya
Abdullah Suriosubroto
Representatif, Naturalisme

Selasa, 29 September 2015

Level dalam Tari


Yang dimaksud dengan level dalam tari adalah tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak. Ada tiga level dalam menari, yaitu:
  • Level Tinggi

Gerak tari yang termasuk dalam level tinggi adalah gerakan melompat dan melayang. Level tinggi berfungsi untuk menunjukkan antara dua peran yang berbeda.
  • Level Sedang

Gerak tari yang termasuk dalam level sedang adalah gerakan berdiri, berjalan, membungkuk, jongkok dan duduk.
  • Level Rendah 

Gerak tari yang termasuk dalam level rendah adalah gerakan telungkup dan posisi tidur.

Senin, 28 September 2015

Tari Perang dari Papua Barat

Tari Perang adalah salah satu nama tarian yang berasal dari Papua Barat. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat pegunungan. Digelar ketika kepala suku memerintahkan untuk berperang, karena tarian ini mampu mengobarkan semangat. Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah keragaman adat, suku dan budaya yang terbanyak. Dari hasil pengumpulan data oleh tim yang dibentuk kepala Dinas Kebudayaan dan Provinsi Papua dan setelah di seleksi dan ditetapkan melalui seminar yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat mewakili 7 wilayah adat yaitu: Wilayah Adat Mamta, Wilayah Adat Saireri, Wilayah Adat Bomberai, Wilayah Adat Domberai, Wilayah Adat Ha-Anim, Wilayah Adat La-Pago, Wilayah Adat Mi-Pago, ternyata sebanyak 248 suku. Penetapan jumlah 248 suku asli ini merupakan data informasi sementara dan terbaru. 
Dari keragaman jumlah ini, kita bisa membayangkan betapa kaya akan sumber penelitian bagi para akademisi antropologi, budayawan, seniman dll. Dalam dunia seni pertunjukan, perkembangan tari di Indonesia berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat. James R. Brandon (1967) membagi perkembangan pertunjukan di Asia Tenggara dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu: Periode pra-sejarah, sekitar 2500SM-100M. Periode masuknya kebudayaan India, 100-1000. Periode masuknya pengaruh Islam, 1300-1750. Periode masuknya negara barat, 1750-akhir perang dunia ke-2. 
Dilihat dari segi antropologi budaya di Papua, dan analisis perkembangan seni tari di Asia Tenggara, tari perang dari masyarakat Papua Barat ini mengarah pada karya seni pertunjukkan periode prasejarah. Masyarakat Papua, hingga hari ini tetap menjaga dan melestarikan tarian ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nenek moyang dan harga diri sebuah bangsa atau suku. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakan perkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan. Mereka percaya bahwa sejak dahulu nenek moyang masyarakat Papua selalu berharap, bahwa budaya yang telah diwariskan kepada setiap generasi tidak luntur, tidak tenggelam dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zaman yang kian hari kian bertambah maju. Seperti halnya budaya tarian-tarian yang telah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang kesulitan, kesusahan dan keresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi berikutnya.
Banyak catatan yang mengisahkan peperangan antar suku di Papua pada jaman pra-sejarah, seperti tarian perang velabhea, yaitu tarian yang mengisahkan perang suku di Sentani. Masyarakat Papua menggunakan tarian perang untuk memberi dorongan spiritual dalam menghadapi peperangan. Namun seiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu undangan. 
Tarian perang ini termasuk dalam tarian grup, atau bahkan bisa menjadi tarian kolosal. Karena tidak ada batasan jumlah penari. Seperti umumnya tarian di Papua, tarian perang pun diringi tifa dan alat musik lainnya, yang menjadi pembeda adalah lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Dengan mengenakan busana tradisional, seperti manik-manik penghias dada, rok yang terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam.