Translate

Rabu, 11 Februari 2026

Makna dan Interpretasi Puisi 'Senja di Pelabuhan Kecil' Karya Chairil Anwar

Puisi

Makna dan Interpretasi Puisi

Puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar menggambarkan kesepian, kelelahan batin, dan perasaan kehilangan melalui suasana senja di sebuah pelabuhan. Latar pelabuhan yang sepi digunakan sebagai simbol kondisi jiwa penyair yang kosong dan muram.

Pada bait awal, penyair menyatakan bahwa tidak ada lagi yang mencari cinta. Gambaran gudang, rumah tua, kapal, dan perahu yang tidak berlayar menunjukkan keadaan stagnan dan mati, seolah-olah harapan dan tujuan hidup telah berhenti. Pelabuhan yang seharusnya menjadi tempat berangkat justru menjadi simbol keterhentian.

Bait kedua memperkuat suasana muram dengan hadirnya gerimis dan kelam. Alam digambarkan turut mencerminkan perasaan penyair. Ungkapan “tanah dan air tidur hilang ombak” menunjukkan keadaan yang sunyi, tanpa gerak, dan tanpa semangat hidup.

Pada bait terakhir, penyair menyatakan “Tiada lagi. Aku sendiri.” Kalimat ini menegaskan kesendirian total yang dialami penyair. Ia berjalan menyusuri semenanjung dengan harapan yang pengap, lalu mengucapkan selamat jalan sebagai tanda perpisahan dengan masa lalu, harapan, atau cinta yang tidak tercapai.

Puisi ini dapat dimaknai sebagai refleksi kehidupan manusia yang mengalami kegagalan, kehilangan, dan kesepian. Chairil Anwar melalui puisi ini menampilkan sikap jujur terhadap perasaan manusiawi, tanpa kepura-puraan, yang menjadi ciri khas puisinya.

Secara keseluruhan, Senja di Pelabuhan Kecil adalah puisi yang kuat dalam menggambarkan suasana batin yang hampa dan melankolis, sekaligus menunjukkan kepekaan Chairil Anwar dalam memadukan latar alam dengan kondisi psikologis manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar