Translate

Minggu, 04 Januari 2015

Sel pada Makhluk Hidup

Sel adalah satuan kehidupan terkecil dari makhluk hidup. Setiap jenis sel memiliki fungsi yang berbeda, misalnya:
  • Sel saraf berfungsi menerima dan menghantarkan rangsangan.
  • Sel otot sebagai alat gerak aktif.
  • Sel darah berfungsi mengangkut berbagai zat yang diperlukan oleh tubuh.
Berdasarkan ada tidaknya membran inti, sel dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
  1. Prokariotik, yaitu sel yang tidak memiliki membran inti.
  2. Eukariotik, yaitu sel yang memiliki membran inti.
Berdasarkan jumlah sel penyusun tubuhnya, makhluk hidup juga dibedakan menjadi dua, yaitu:
  1. Uniseluler, yaitu makhluk hidup bersel satu.
  2. Multiseluler, yaitu makhluk hidup bersel banyak.
Sel dibedakan menjadi tiga bagian utama, yaitu:
  1. Membran Sel (Selaput Plasma) merupakan bagian yang membungkus sel sebelah luar. Fungsinya untuk mengatur keluar masuknya zat dari luar dan ke dalam sel serta melindungi seluruh isi sel.
  2. Sitoplasma adalah cariran yang mengisi ruang antara membran sel. Di dalam sitoplasma terdapat struktur-struktur khusus yang disebut organel. Organel yang terdapat dalam sitoplasma, yaitu: ribosom, mitokondria, lisosom, retikulum endoplasma, badan golgi, plastida, dan vakuola. Plasma yang terdapat di luar inti sel disebut sitoplasma, sedangkan plasma yang terdapat di dalam inti sel disebut nukleoplasma. Sitoplasma dan nukleoplasma disebut protoplasma. Protoplasma merupakan cairan kental yang tersusun oleh air, karbohidrat, protein, lemak, garam-garam mineral, dan vitamin.
  3. Inti Sel (Nukleus) merupakan bagian sel terdalam dan memiliki bentuk yang bulat, bulat telur, atau tak teratur. Nukleus dikelilingi oleh sitoplasma (cairan) dan letaknya agak di tengah sel. Inti sel berfungsi mengatur seluruh kegiatan sel. Di dalam inti sel terdapat kromosom yang mengandung gen. Gen berperan sebagai pembawa sifat keturunan. Di dalam inti sel terdapat anak inti yang disebut nukleolus.


Baca lebih lanjut tentang sel: Sel pada Hewan dan Tumbuhan

Sabtu, 03 Januari 2015

Organisasi Kehidupan

Organisasi kehidupan adalah tingkatan susunan makhluk hidup yang menunjukkan urutan struktur kehidupan dari yang paling sederhana hingga paling kompleks. Konsep ini menjelaskan bagian-bagian penyusun kehidupan serta fungsi tiap tingkatannya.

Tingkatan organisasi kehidupan dan pengertiannya:

  • Molekul adalah bahan kimia dasar penyusun kehidupan yang mengalami kondensasi sehingga membentuk senyawa penting seperti asam amino dan protein yang akan membentuk menjadi sel.
  • Organel adalah sub-unit di dalam sel yang memiliki fungsi khusus/spesifik.
  • Sel adalah satuan kehidupan terkecil dari makhluk hidup. (Baca lebih lanjut tentang sel: Sel pada Makhluk Hidup dan Sel pada Hewan dan Tumbuhan)
  • Jaringan adalah kumpulan sel sejenis yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama dalam tubuh makhluk hidup multiseluler.
  • Organ adalah gabungan beberapa jaringan yang bekerja sama menjalankan fungsi tertentu.
  • Sistem organ adalah kumpulan organ yang saling bekerja sama dalam satu sistem fungsi tubuh.
  • Organisme (individu) adalah satu makhluk hidup utuh yang merupakan gabungan dari sistem-sistem organ yang bekerja sama membentuk kehiduan.
  • Populasi adalah sekumpulan individu sejenis yang hidup atau menempati suatu wilayah atau daerah tertentu.
  • Komunitas adalah kumpulan berbagai populasi yang hidup bersama di suatu tempat.
  • Ekosistem adalah sekumpulan makhluk hidup dan benda mati dalam suatu lingkungan tempat hidup yang saling berinteraksi atau memiliki hubungan timbal balik.
  • Biosfer adalah seluruh wilayah di bumi yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan beserta seluruh makhluk hidup yang hidup di dalamnya.

Rabu, 18 Juni 2014

Tari Tradisional Indonesia


Indonesia memiliki kekayaan seni tari daerah yang sangat beragam. Beraneka ragam tarian tradisional yang tersebar di seluruh provinsi menjadi bukti bahwa seni tari turut memperkaya adat, budaya, dan kesenian bangsa Indonesia. Dengan mengenal lebih banyak tarian daerah, diharapkan tumbuh rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air.

Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan serta keanekaragaman suku bangsa dan budaya. Indonesia memiliki lebih dari 700 suku bangsa, yang akar budayanya berasal dari bangsa Austronesia dan Melanesia, serta dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan dari Asia dan Barat melalui proses kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki tarian khasnya masing-masing. Diperkirakan terdapat lebih dari 3.000 tarian asli Indonesia yang terus dilestarikan melalui sanggar-sanggar seni, sekolah seni tari, serta lembaga budaya yang berada di bawah perlindungan keraton maupun pemerintah.

Tari Tradisional

Tari tradisional adalah tarian yang telah berkembang dalam jangka waktu lama dan senantiasa berpijak pada pola-pola gerak, nilai, serta aturan yang telah mentradisi. Sebelum mendapat pengaruh budaya asing, suku-suku bangsa di kepulauan Indonesia telah mengembangkan seni tari mereka sendiri. Hal ini masih dapat dilihat pada berbagai suku yang memilih mempertahankan tradisi leluhur dan hidup sederhana di daerah pedalaman, seperti suku Batak, Nias, dan Mentawai di Sumatera; suku Dayak, Punan, dan Iban di Kalimantan; suku Badui di Jawa; Toraja dan Minahasa di Sulawesi; serta suku Dani, Asmat, dan Amungme di Papua.

Banyak ahli antropologi berpendapat bahwa seni tari di Indonesia berawal dari gerakan ritual dan upacara keagamaan. Tarian-tarian tersebut biasanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat, seperti tari perang, tarian dukun untuk penyembuhan atau penolak penyakit, tarian pemanggil hujan, serta tarian yang berkaitan dengan pertanian, misalnya tari Hudoq dari suku Dayak. Selain itu, ada pula tarian yang terinspirasi dari alam, seperti tari Merak dari Jawa Barat.

Tari Tor-Tor dari suku Batak

Tarian tradisional purba umumnya menampilkan gerakan berulang-ulang, seperti tari Tor-Tor dari suku Batak di Sumatera Utara. Tarian ini dipercaya bertujuan untuk membangkitkan, menenangkan, atau menyenangkan roh-roh tertentu. Beberapa tarian bahkan melibatkan kondisi mental khusus seperti kesurupan, yang dianggap sebagai masuknya roh ke dalam tubuh penari. Contohnya adalah tari Sanghyang Dedari di Bali, yang dibawakan oleh gadis-gadis yang belum dewasa dalam keadaan tidak sadar dan dipercaya dirasuki roh suci untuk mengusir roh jahat. Tari Kuda Lumping dan tari Keris juga dikenal melibatkan unsur kesurupan.

Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman budaya bangsa. Beberapa tradisi tari yang berkembang sejak dahulu kala antara lain tarian Bali, Jawa, Sunda, Minangkabau, Palembang, Melayu, dan Aceh. Meskipun berakar pada tradisi lama, seni tari ini terus berkembang hingga saat ini. Beberapa tarian mungkin telah berusia ratusan tahun, sementara tarian berlanggam tradisional lainnya baru diciptakan dalam beberapa dekade terakhir. Penciptaan tari dengan koreografi baru yang tetap berpegang pada kaidah tradisi melahirkan tari kreasi baru, baik sebagai upaya menggali kembali budaya yang hampir punah maupun sebagai bentuk eksplorasi seni tari tradisional.

Jenis Tari Tradisional

1. Tari Keraton

Tari keraton adalah tarian yang berkembang di lingkungan kerajaan atau bangsawan. Tarian ini mencerminkan sejarah panjang Indonesia dan menjadi bagian penting dari budaya istana. Hingga kini, beberapa keluarga bangsawan dan keraton di berbagai daerah masih berperan sebagai pelindung dan pelestari seni budaya istana.

Perbedaan yang paling jelas antara tari keraton dan tari rakyat terlihat dalam tradisi tari Jawa. Struktur masyarakat Jawa yang berlapis tercermin dalam seni tarinya. Tarian keraton menekankan kehalusan, nilai spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan, sementara tari rakyat lebih menonjolkan unsur hiburan dan pergaulan sosial. Akibatnya, tari keraton memiliki aturan, tata gerak, dan disiplin yang ketat serta diwariskan secara turun-temurun, sedangkan tari rakyat cenderung lebih bebas dan terbuka terhadap pengaruh luar.

Pelestarian seni tari keraton umumnya didukung oleh pranata kerajaan. Para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta dikenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton beserta komposisi gamelan pengiringnya. Tradisi tari istana juga berkembang di Bali dan wilayah Melayu. Tarian istana di Sumatera, seperti di Kesultanan Aceh, Deli, Riau, dan Palembang, banyak dipengaruhi budaya Islam, sedangkan tarian istana Jawa dan Bali lebih kental dengan pengaruh Hindu-Buddha.

2. Tari Rakyat

Tari rakyat adalah tarian yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat umum, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Tari ini mencerminkan kehidupan sosial masyarakat serta tingkat kesederhanaan dan kebebasan berekspresi rakyat. Dibandingkan dengan tari keraton, tari rakyat relatif tidak terikat oleh aturan yang ketat, meskipun beberapa gerak dan sikap tubuh khas tetap dipertahankan.

Fungsi utama tari rakyat adalah sebagai sarana hiburan dan pergaulan sosial, bukan sebagai tarian ritual. Contoh tari rakyat yang terkenal antara lain tari Ronggeng dan tari Jaipongan dari masyarakat Sunda. Kedua tarian tersebut merupakan tari pergaulan yang bersifat menghibur dan dinamis. Gerakan tari rakyat sering kali dianggap terlalu bebas jika dilihat dari sudut pandang tari keraton, sehingga terkadang disalahartikan sebagai tarian yang kasar atau erotis. Namun demikian, tari rakyat tetap berkembang pesat karena mendapat dukungan kuat dari masyarakat.

Beberapa tari rakyat tradisional bahkan berkembang menjadi tarian massal dengan gerakan sederhana dan mudah diikuti, seperti tari Poco-Poco dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan tari Sajojo dari Papua.

Tari Jaipongan