Translate

Minggu, 09 Januari 2022

Crita Anoman Obong

Berikut ini cerita Anoman Obong.
Anoman Obong

Dewi Shinta wis kelakon didhusta dening Prabu Rahwana/Dasamuka menyang kraton Alengkadiraja. Dewi Shinta dipapanake ing taman Kaputren. Ing taman, Dewi Shinta ora doyan mangan lan ora donyan ngombe. Awake kuru aking, rambute dawa nggimbal ora digelung amarga wis suwe ora adus. Kabeh mau ditindakake supaya Rahwana wegah nyedhaki dheweke. Kanggo njaga keslametane, menyang ngendi wae Dewi Shinta tansah nggawa cudrik/keris cilik. Samangsa-mangsa Prabu Rahwana teka arep ngrudapeksa, dheweke banjur ngancam arep nganyut tuwuh utawa bunuh diri.
Ing taman amung Dewi Trijatha sing bisa ngarih-arih lan bujuk Dewi Shinta supaya gelem mangan. Dewi Trijatha kui anake Gunawan Wibisana adhine Prabu Dasamuka dadi isih ponakane Prabu Dasamuka. Dewi Trijatha kui rupane ayu lan polah tingkahe ora kasar kaya buta Alengka. Polah tingkahe lan solah bawane ora beda karo putri keraton liyane. Upama ora ana Trijatha, Dewi Shinta mesthi wis mati suduk sarira, Trijatha kasil ngarih-arih Dewi Shinta supaya ora lampus dhiri.
Ora kacarita nelangsane Dewi Shinta ing tangane mungsuh. Dene Sri Ramawijaya kasil dadi ratu angratoni bangsane kethek saka kraton Guwa Kiskenda andhahane Sugriwa. Sawijining dina Sri Ramawijaya kirim utusan kethek putih aran Anoman. Anoman dinuta Sri Ramawijaya supaya nggolek sisik melik ing ngendi lan kepriye kahanane Dewi Shinta.
Tekan keraton Alengka, Anoman njujug taman keputren. Ing kono dheweke kelakon nemoni Dewi Shinta lan Trijatha. Anoman banjur ngaturake ali-aline Sri Rama marang Dewi Shinta. Sawise mangerteni kaanane Dewi Shinta lan entu sisik melik bab kaanane kraton lan prajurit Alengkadiraja, Anoman banjur pamit bali. Emane nalika arep bali, Anoman konangan lan kecekel prajurit Alengkadiraja. Anoman dirangket disowanake Prabu Rahwana. Dening Prabu Dasamuka Anoman diukum obong. Anoman diukum obong ing laun-alun Alengka.
Nanging Anoman kuwi kethek sekti mandraguna, ora tedhas diobong. Nalika diobong Anoman mberot banjur pencolotan sandhuwure wewangunan kraton lan omah. Wewangunan lan wit-witan sing diencoke Anoman kabeh kobong. Kraton Alengkadiraja sing maune apik lan endah saiki dadi segara geni sing mbulat-mbulat amarga pokale Anoman. Prabu Dasamuka nesu lan mrentahake prajurit Alengka supaya nyekel Anoman. Nanging Anoman wis kasil lolos lan bali atur palapuran marang Sri Ramawijaya.
Swasana lan kaanane kraton Alengkadiraja nalika diobong dening Anoman kaya sing diceritakake ing lagu campursari Anoman obong.

Jumat, 07 Januari 2022

Alat Musik Tradisional Irian Jaya (Papua)

Sebagian alat musik tradisional Irian Jaya (Papua) merupakan alat musik tradisional kiriman dari Maluku, contohnya seperti alat musik tradisional Rebana, Rebab, dan Gong.
1. Tifa
Tifa
Tifa adalah alat musik yang berasal dari Maluku dan Papua, Tifa mirip seperti gendang yang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Tifa terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi. Biasanya penutupnya terbuat dari kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknya pun biasanya dibuat dengan ukiran. Tiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khasnya masing-masing. Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian Perang, Tarian Tradisional Asmat, dan Tarian Gatsi. Alat musik tradisional Tifa ini banyak digunakan oleh penduduk Papua dan Maluku. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.
2. Triton
Triton
Triton adalah alat musik tradisional masyarakat Papua. Triton merupakan alat musik yang cara penggunaannya dengan cara ditiup. Alat musik ini terdapat di seluruh pesisir pantai yang ada di Papua, terutama di daerah Biak, Yapen, Waropen, Nabire, Wondama, serta kepulauan Raja Amat. Awalnya, alat ini hanya digunakan untuk sarana komunikasi atau sebagai alat panggil atau pemberi tanda. Selanjutnya, alat ini juga digunakan sebagai sarana hiburan dan alat musik tradisional.
3. Fu
Fu
Alat musik ini terbuat dari kerang dan ditiup untuk mengeluarkan suara.
4. Sekakas
Sekakas
Sekakas merupakan instrumen yang ada di Papua yang digunakan untuk keperluan praktis, seperti untuk menarik (perhatian) ikan-ikan hiu. Sekakas bisa mengeluarkan bunyi gemeretakan kalau dipegang setengah didalam laut dan setengahnya lagi di udara.
5. Pikon
Pikon
Pikon berasal dari kata pikonane. Dalam bahasa Baliem, pikonane berarti alat musik bunyi. Alat ini terbuat dari sejenis bambu yang beruas-ruas dan berongga bernama Hite. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar berupa do, mi, dan sol. Walau kelihatan sederhana, namun ternyata tak semua orang bisa menggunakan alat musik tradisional Papua ini.

Sabtu, 25 September 2021

Ragam Hias pada Bahan Kayu

Pengertian Ragam Hias

Ragam hias disebut juga ornamen, merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak ragam hias. Ragam hias di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan alam, flora dan fauna serta manusia yang hidup di dalamnya. Keinginan untuk menghias merupakan naluri atau insting manusia. Faktor kepercayaan turut mendukung berkembangnya ragam hias karena adanya perlambangan di balik gambar. Ragam hias memiliki makna karena disepakati oleh masyarakat penggunanya. Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara stilasi (digayakan) yang meliputi penyederhanaan bentuk dan perubahan bentuk (deformasi).
Pengertian Bahan Kayu
Dalam kehidupan sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering digunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan karena sifat khasnya. Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.
Beberapa teknik dalam digunakan dalam menerapkan ragam hias pada bahan kayu, seperti mengukir dan menggambar. Mengukir berarti ragam hias dibuat dengan cara permukaan kayu dipahat dan dibentuk seperti relief. Teknik menggambar dibuat setelah benda atau barang seni terbentuk. Ragam hias pada kayu sering dijumpai pada pintu, jendela, bagian tiang rumah, dan bagian tertentu rumah. Pada umumnya, ragam hias selain digunakan sebagai bagian dari keindahan rumah juga berfungsi sebagai penolak bala atau penghormatan kepada roh leluhur. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua memiliki ciri khas sendiri dalam membuat ragam hias pada bahan kayu.
Ragam Hias pada Bahan Kayu
Penempatan ragam hias pada bahan kayu dapat dilakukan pada bidang dua dan tiga dimensi. Pada bidang dua dimensi, ragam hias dapat dilakukan dengan menggambar atau melukis permukaan bidangnya. Penerapan ragam hias pada bidang dua dimensi seperti ragam hias pada ukiran kayu, dilihat dari sisi-sisi bangunan rumah adat.
Penerapan ragam hias pada bahan kayu sudah banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya daerah Jawa Tengah. Pemanfaatan kayu sebagai benda seni sudah sejak lama ada. Kayu biasanya diolah terlebih dahulu menjadi benda-benda seni tertentu kemudian diberikan sentuhan ragam hias. Ragam hias yang digunakan tidak berbeda dengan bahan-bahan lain. Ragam hias yang digunakan biasanya diambil dari unsur flora, fauna, geometris, dan bentuk-bentuk figuratif. 

a. Ragam hias flora
Flora sebagai sumber objek motif ragam hias dapat dijumpai hampir di seluruh pulau di Indonesia. Ragam hias dengan motif flora (vegetal) mudah dijumpai pada barang-barang seni, seperti batik, ukiran, kain sulam, kain tenun, dan bordir.  
b. Ragam hias fauna
Ragam hias fauna (animal) merupakan bentuk gambar motif yang diambil dari hewan tertentu. Hewan sebagai wujud ragam hias pada umumnya telah mengalami perubahan bentuk atau gaya. Beberapa hewan yang biasa dipakai sebagai objek ragam hias adalah kupu-kupu, burung, kadal, gajah, dan ikan. Ragam hias motif fauna telah mengalami deformasi namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Ragam hias fauna dapat dikombinasikan dengan motif flora dengan bentuk yang digayakan.
Motif ragam hias daerah di Indonesia banyak menggunakan hewan sebagai objek ragam hias. Daerah-daerah tersebut seperti Yogyakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Motif ragam hias fauna tersebut dapat dijumpai pada hasil karya batik, ukiran, sulaman, anyaman, tenun, dan kain bordir Ragam hias bentuk fauna dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan kearifan lokal daerah tertentu di Indonesia seperti burung cendrawasih di Papua, komodo di Nusa Tenggara Timur, dan gajah di Lampung.
c. Ragam hias geometris
Ragam hias geometris merupakan motif hias yang dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris dan kemudian digayakan sesuai dengan selera dan imajinasi pembuatnya. Gaya ragam hias geometris dapat dijumpai di seluruh daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ragam hias geometris dapat dibuat dengan menggabungkan bentuk-bentuk geometris ke dalam satu motif ragam hias. 
d. Ragam hias figuratif
Bentuk ragam hias figuratif berupa objek manusia yang digambar dengan mendapatkan penggayaan bentuk. Ragam hias figuratif biasanya terdapat pada bahan tekstil maupun bahan kayu, yang proses pembuatannya dapat dilakukan dengan cara menggambar.
4. Teknik Berkarya Ragam Hias pada Bahan Kayu
Berkarya dengan bahan kayu dapat dilakukan dengan cara mengukir dan menggambar atau melukis. Mengukir dalah membuat sayatan pada permukaan kayu dengan menggunakan alat pahat. Kegiatan melukis berarti membuat gambar ragam hias dan kemudian diberi warna. 
a. Menggambar ragam hias ukiran di atas bahan kayu
Bentuk kayu ada yang berupa batang dan ada juga yang berbentuk papan. Kayu banyak jenisnya. Ada kayu yang memiliki serat halus dan kasar. Mengukir harus memperhatikan alur seratnya. Sebelum kayu diukir, terlebih dahulu harus dibuatkan gambar hiasnya. Membuat torehan pada kayu yang menggunakan ragam hias tertentu merupakan aktivitas dalam mengukir.
Alat utama untuk mengukir, yaitu mata pahat mendatar dan mata pahat melengkung.
Penggunaan pahat harus disesuaikan dengan bentuk ragam hias yang akan diukir. Alat pemukul yang digunakan dalam kegiatan mengukir pada umumnya terbuat dari kayu meskipun ada jugayang menggunakan palu besi. 
Sebelum mengukir, sebaiknya kamu harus mengenal terlebih dahulu alat dan bahan serta prosedur kerjanya. Kegiatan mengukir pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan menggambar ragam hias ukiran
  2. Memilih bentuk ragam hias pada bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Mulai mengukir di bagian dasar luar sketsa ragam hias
  5. Mulai mengukir sketsa ragam hias
  6. Membentuk garis dan lekukan
  7. Merapikan atau membersihkan bagian ukiran yang belum sempurna
b. Melukis ragam hias di atas bahan kayu
Bahan kayu sebagai media dalam melukis ragam hias memiliki sifat yang banyak menyerap cat.  Penggunaan cat sebaiknya diulang-ulang agar warna yang diinginkan terlihat lebih sempurna. Pengulangan pengecatan dapat dilakukan setelah cat sebelumnya sudah kering. Kegiatan melukis pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan melukis
  2. Meyiapkan bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Memberikan warna pada sketsa
  5. Biarkan kering
  6. Beri cat secara berulang-ulang agar warna terlihat lebih sempurna
  7. Setelah warna terlihat sempurna, beri cat pelapis (vernis)