Translate

Sabtu, 25 September 2021

Ragam Hias pada Bahan Kayu

Pengertian Ragam Hias

Ragam hias disebut juga ornamen, merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak ragam hias. Ragam hias di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan alam, flora dan fauna serta manusia yang hidup di dalamnya. Keinginan untuk menghias merupakan naluri atau insting manusia. Faktor kepercayaan turut mendukung berkembangnya ragam hias karena adanya perlambangan di balik gambar. Ragam hias memiliki makna karena disepakati oleh masyarakat penggunanya. Menggambar ragam hias dapat dilakukan dengan cara stilasi (digayakan) yang meliputi penyederhanaan bentuk dan perubahan bentuk (deformasi).
Pengertian Bahan Kayu
Dalam kehidupan sehari-hari, kayu merupakan bahan yang sangat sering digunakan untuk tujuan penggunaan tertentu. Terkadang sebagai barang tertentu, kayu tidak dapat digantikan dengan bahan karena sifat khasnya. Kita sebagai pengguna dari kayu yang setiap jenisnya mempunyai sifat-sifat yang berbeda, perlu mengenal sifat-sifat kayu tersebut sehingga dalam pemilihan atau penentuan jenis untuk tujuan penggunaan tertentu harus betul-betul sesuai dengan yang kita inginkan.
Beberapa teknik dalam digunakan dalam menerapkan ragam hias pada bahan kayu, seperti mengukir dan menggambar. Mengukir berarti ragam hias dibuat dengan cara permukaan kayu dipahat dan dibentuk seperti relief. Teknik menggambar dibuat setelah benda atau barang seni terbentuk. Ragam hias pada kayu sering dijumpai pada pintu, jendela, bagian tiang rumah, dan bagian tertentu rumah. Pada umumnya, ragam hias selain digunakan sebagai bagian dari keindahan rumah juga berfungsi sebagai penolak bala atau penghormatan kepada roh leluhur. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua memiliki ciri khas sendiri dalam membuat ragam hias pada bahan kayu.
Ragam Hias pada Bahan Kayu
Penempatan ragam hias pada bahan kayu dapat dilakukan pada bidang dua dan tiga dimensi. Pada bidang dua dimensi, ragam hias dapat dilakukan dengan menggambar atau melukis permukaan bidangnya. Penerapan ragam hias pada bidang dua dimensi seperti ragam hias pada ukiran kayu, dilihat dari sisi-sisi bangunan rumah adat.
Penerapan ragam hias pada bahan kayu sudah banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya daerah Jawa Tengah. Pemanfaatan kayu sebagai benda seni sudah sejak lama ada. Kayu biasanya diolah terlebih dahulu menjadi benda-benda seni tertentu kemudian diberikan sentuhan ragam hias. Ragam hias yang digunakan tidak berbeda dengan bahan-bahan lain. Ragam hias yang digunakan biasanya diambil dari unsur flora, fauna, geometris, dan bentuk-bentuk figuratif. 

a. Ragam hias flora
Flora sebagai sumber objek motif ragam hias dapat dijumpai hampir di seluruh pulau di Indonesia. Ragam hias dengan motif flora (vegetal) mudah dijumpai pada barang-barang seni, seperti batik, ukiran, kain sulam, kain tenun, dan bordir.  
b. Ragam hias fauna
Ragam hias fauna (animal) merupakan bentuk gambar motif yang diambil dari hewan tertentu. Hewan sebagai wujud ragam hias pada umumnya telah mengalami perubahan bentuk atau gaya. Beberapa hewan yang biasa dipakai sebagai objek ragam hias adalah kupu-kupu, burung, kadal, gajah, dan ikan. Ragam hias motif fauna telah mengalami deformasi namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Ragam hias fauna dapat dikombinasikan dengan motif flora dengan bentuk yang digayakan.
Motif ragam hias daerah di Indonesia banyak menggunakan hewan sebagai objek ragam hias. Daerah-daerah tersebut seperti Yogyakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Motif ragam hias fauna tersebut dapat dijumpai pada hasil karya batik, ukiran, sulaman, anyaman, tenun, dan kain bordir Ragam hias bentuk fauna dapat dijadikan sarana untuk memperkenalkan kearifan lokal daerah tertentu di Indonesia seperti burung cendrawasih di Papua, komodo di Nusa Tenggara Timur, dan gajah di Lampung.
c. Ragam hias geometris
Ragam hias geometris merupakan motif hias yang dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris dan kemudian digayakan sesuai dengan selera dan imajinasi pembuatnya. Gaya ragam hias geometris dapat dijumpai di seluruh daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ragam hias geometris dapat dibuat dengan menggabungkan bentuk-bentuk geometris ke dalam satu motif ragam hias. 
d. Ragam hias figuratif
Bentuk ragam hias figuratif berupa objek manusia yang digambar dengan mendapatkan penggayaan bentuk. Ragam hias figuratif biasanya terdapat pada bahan tekstil maupun bahan kayu, yang proses pembuatannya dapat dilakukan dengan cara menggambar.
4. Teknik Berkarya Ragam Hias pada Bahan Kayu
Berkarya dengan bahan kayu dapat dilakukan dengan cara mengukir dan menggambar atau melukis. Mengukir dalah membuat sayatan pada permukaan kayu dengan menggunakan alat pahat. Kegiatan melukis berarti membuat gambar ragam hias dan kemudian diberi warna. 
a. Menggambar ragam hias ukiran di atas bahan kayu
Bentuk kayu ada yang berupa batang dan ada juga yang berbentuk papan. Kayu banyak jenisnya. Ada kayu yang memiliki serat halus dan kasar. Mengukir harus memperhatikan alur seratnya. Sebelum kayu diukir, terlebih dahulu harus dibuatkan gambar hiasnya. Membuat torehan pada kayu yang menggunakan ragam hias tertentu merupakan aktivitas dalam mengukir.
Alat utama untuk mengukir, yaitu mata pahat mendatar dan mata pahat melengkung.
Penggunaan pahat harus disesuaikan dengan bentuk ragam hias yang akan diukir. Alat pemukul yang digunakan dalam kegiatan mengukir pada umumnya terbuat dari kayu meskipun ada jugayang menggunakan palu besi. 
Sebelum mengukir, sebaiknya kamu harus mengenal terlebih dahulu alat dan bahan serta prosedur kerjanya. Kegiatan mengukir pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan menggambar ragam hias ukiran
  2. Memilih bentuk ragam hias pada bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Mulai mengukir di bagian dasar luar sketsa ragam hias
  5. Mulai mengukir sketsa ragam hias
  6. Membentuk garis dan lekukan
  7. Merapikan atau membersihkan bagian ukiran yang belum sempurna
b. Melukis ragam hias di atas bahan kayu
Bahan kayu sebagai media dalam melukis ragam hias memiliki sifat yang banyak menyerap cat.  Penggunaan cat sebaiknya diulang-ulang agar warna yang diinginkan terlihat lebih sempurna. Pengulangan pengecatan dapat dilakukan setelah cat sebelumnya sudah kering. Kegiatan melukis pada bahan kayu memiliki prosedur sebagai berikut:
  1. Menyiapkan alat dan bahan melukis
  2. Meyiapkan bahan kayu
  3. Membuat sketsa ragam hias pada bahan kayu
  4. Memberikan warna pada sketsa
  5. Biarkan kering
  6. Beri cat secara berulang-ulang agar warna terlihat lebih sempurna
  7. Setelah warna terlihat sempurna, beri cat pelapis (vernis)

Sabtu, 04 Juli 2020

Resensi Buku Nonfiksi "101 Eksperimen dengan Air" Karya Anita van Saan

Identitas Buku

Judul buku: 101 Eksperimen dengan Air

Judul asli: 101 Experimente mit Wasser

Penulis: Anita van Saan

Ilustrator: Charlotte Wagner

Penerjemah: Primardiana Hermilia Wijayati, Nasirotussa’diyah, dan Iwa Sobara

Penerbit: Tiga Serangkai

Tahun terbit: 2009

Tebal: 136 halaman

Sinopsis

Tahukah kalian, pancuran air dapat melengkung seperti terkena sihir, kacang polong dan kismis dapat membuat kalian takjub, tetesan air dapat bergerak seperti sedang menari, hewan dapat berjalan di atas air, tali dapat menembus es batu tanpa meninggalkan jejak, dan korek api dapat berlarian di atas permukaan air?

Air di dalam kehidupan sangat penting, juga memiliki sifat yang mengagumkan! Kita dapat mengajukan segudang pertanyaan tentang air.

  • Bagaimana kapal laut dan gunung es yang memiliki berat berton-ton dapat terapung di atas air?
  • Bagaimana sebuah kapal selam dan instalasi pengolahan air dapat berfungsi dengan baik?
  • Mengapa air memuai pada saat membeku?
  • Bagaimana air laut dapat menjadi asin?
  • Bagaimana cara kerja instalasi penyaringan air?
101 Eksperimen dengan Air memberi kita pengetahuan yang menarik tentang air dan mengajarkan banyak hal yang tidak membosankan. 101 Eksperimen dengan Air dilengkapi data-data penting, keterangan gambar, serta ilustrasi yang menarik. 

Isi Resensi

Buku 101 Eksperimen dengan Air pertama kali diterbitkan di Jerman pada tahun 2008 dengan judul 101 Experimente mit Wasser. Penulisnya, Anita van Saan, merangkum berbagai macam eksperimen yang berhubungan dengan air dan menyajikannya sebagai media belajar yang menarik, khususnya bagi anak-anak.

Buku ini berisi berbagai eksperimen sederhana yang dapat dilakukan dengan air, sehingga pembaca tidak hanya membaca teori, tetapi juga dapat langsung mempraktikkannya. Ilustrasi karya Charlotte Wagner membantu memperjelas setiap eksperimen yang dijelaskan, membuat isi buku semakin mudah dipahami dan menyenangkan untuk dibaca. Tampilan buku yang full color juga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak, karena ilustrasi berwarna membuat pembaca tidak mudah bosan dan lebih tertarik untuk mencoba setiap eksperimen.

Selain itu, kertas yang digunakan cukup tebal, sehingga buku ini tidak mudah robek apabila terkena air. Hal ini sangat sesuai dengan isi buku yang berisi langkah-langkah eksperimen menggunakan air, di mana kemungkinan buku ketumpahan air saat percobaan berlangsung cukup besar. Dengan kualitas kertas yang baik, buku ini tetap aman dan dapat terus digunakan.

Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini diterbitkan dengan judul 101 Eksperimen dengan Air dan menjadi salah satu bacaan edukatif yang cocok untuk mengenalkan konsep sains dasar tentang air dengan cara yang sederhana, menarik, dan praktis. Secara keseluruhan, menurut penulis tidak terdapat kelemahan yang berarti pada buku ini karena isi, tampilan, dan penyajiannya sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran bagi anak-anak.

Senin, 07 Oktober 2019

A Diary, "My Holiday"

Dear My Lovely Blog,

It's been a while since my family going on vacation together!

It was a long long vacation so my family decided to visit my sister in Yogyakarta. We went there by bus. And apparently my brother-in-law's family also came to Yogyakarta.

We all stayed at my sister's house. It was cramped, but it was fun to know each other more. To spend holidays, we went to many places such as Sindu Kusuma Education Park (or well known as SKE/Edupark), Trans Studio Mini, and Puri Mataram.

The first thing we can think about was went to Sindu Kusuma Education Park because it was the nearest recreational place from home. SKE have a lot of game rides. We played a lot. Even my father playing along and won the dolls for us ♡​

It was already cloudy in the morning. But, in the afternoon, the weather became worse so we decided to go home. It was too late, the rain came even before we reach the exit :(

I have taken a few photos there \(´▽`)/

[photo] [photo]

A few days after that, we went to Trans Studio Mini. Trans Studio Mini is just like Trans Studio in Bandung or Makassar, full of games. Trans Studio Mini Yogyakarta is located in 3rd floor of Transmart Mall. It's called 'mini' because it only has a small area. But it has no different from the original because we still can have a lot of fun with the game rides. It even has a roller coaster! We rode it and my father said that our screaming was very loud it even distracted other people from their activities. I was so embarrassed to hear that!

We played a lot of games and got so many coupons which can be exchanged for items such as dolls or small notebooks as a souvenir from Trans Studio Mini.

[photo]

[photo]

And the last recreation area we visited was Puri Mataram. Puri Mataram is a recreation area that provides a lot of places to take pictures and of course we took a lot of pictures until the sun set. We had so much fun there! 

[photo]

[photo]

After the sun set, we had meals at a restaurant in Puri Mataram. I ordered fried chicken even though there was so many choice to  be ordered.

[photo]

[photo]

It was a very good holiday. I enjoyed it so much!

***

[07/10/2019] This diary entry is done as part of assignment of Writing for Personal Communication.
[Edit per 25/09/2021] All photos have been deleted due to personal reason.